Shohib Sang Pemberontak


Shohibul anshor siregarNama lengkapnya Drs Shohibul Anshor Siregar Msi. Panggilan akrabnya banyak. Bisa Pak Shohib, Pak Regar, Pak Anshor atau namanya dipanggil panjang semuanya. Yang berbeda mungkin, siapa yang memanggil.

Karir akademiknya dimulai nun di Tapanuli Utara. Pagi ia menuntut ilmu di SD Negeri Sibulan-bulan dan sore hari di SD Muhammadiyah Sibulan-bulan Tapanuli Utara.

Sejak beberapa tahun lalu ia mendirikan ‘nBASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya) yang bidang garapannya terfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui upaya mendorong perubahan dari dalam. “Tidak dengan intimidasi, pembodohan, apalagi kekerasan. Metode pilihan ‘nBASIS ialah pencerahan dengan jalan ilmu pengetahuan”, terang Shohib.

Saat musim pilkadasung 2005 lalu, ‘nBASIS menyelenggarakan sejumlah kegiatan seminar, diskusi, uji publik, lokakarya, workshop, termasuk lobby-lobby politik dalam kerangka Tim Sukses Rakyat, dan penerbitan sebuah buku berjudul “Kota Medan Berubah Atau Ambruk”.

Suatu saat saya berbincang-bincang dengan pria yang tak begitu tinggi namun sangat lincah ini.

Akhir-akhir ini kampus semakin akrab dengan dunia OKP…
Itu suatu kerugian besar, jelas. OKP itu, untuk kondisinya dari awal sampai sekarang memiliki orientasi dan tujuan manifest dan tujuan laten yang berbeda jauh dengan kampus. Lihatlah reformasi tempo hari. Siapa yang berdiri hadap-hadapan dengan mahasiswa dan bahkan menuduh kaum reformis sebagai komunis? Sekarang kita tak tahu lagi siapa yang gadungan, karena semua sudah mengklaim diri sebagai kaum reformis.

Apakah ini merugikan bagi dunia intelektual kita sekarang?
Kehadiran OKP di kampus dengan berbagai modus dan mantel adalah sebuah indikasi berbahaya. Mereka mau menaklukkan kampus dengan standar orientasi dan kepentingan politik mereka. Tetapi jangan khawatir, hanya kampus-kampus yang tidak bermutulah, kadar kehidupan ilmiahnya rendah, dan oknum-oknum pimpinannya bukan akademisi murni yang bisa dimasuki oleh OKP. Seyogyanyalah kampus bergerak memperbaiki OKP, bukan OKP yang ekspansi destruktif ke kampus.

Bukankah banyak dari organisasi mahasiswa dan pemuda yang kemudian menapak tangga KNPI untuk menuju kekuasaan?
KNPI itu kan merasa dirinya superordinatif dan lebih hebat dari yang lain, termasuk mahasiswa. Di zaman saya memang ada yang amat lucu. KNPI itu diisi oleh orang-orang yang relatif berumurlah. Jadi saya sering bertemu dengan orang kuat KNPI yang omongannya selalu tentang jabatan dan kekuasaan. Ketika bicara tentang negara dan bangsa, terasa omongan mereka selalu klise dan hipokrit, apalagi buat anak kampus. Saya risih betul bertemu mereka yang sudah berumur, yang mungkin kurang lebih sebaya ayah saya. Mungkin anak sulungnya seusia saya pula dan kami bertemu dalam organisasi yang berbeda tapi selevel. Bayangkan itu sebagai potret perpolitikan sebuah bangsa dalam sebuah episode yang kelabu. Orang tak tahu apa itu pemuda.

Potret kelabu itu apakah masih diteruskan sampai sekarang?
Saya beri analogi begini. Memang pemerintah kita waktu itu menerapkan policy politik bipolar and segmentary process. Secara tegas masyarakat dibagi dua, yang pro dan yang melawan. Semua pihak yang pro, difasilitasi, dimanjakan, dan dipromosikan. Sebaliknya kelompok lain diberi stigma yang menyulitkan, dan jika perlu tuduh komunis. Lalu kemudian semua masyarakat dikelompokkan dalam simpul-simpul tertentu. Semua orang yang berusia muda wajib mensubordinasikan diri ke KNPI lewat organisasi-organisasi masing-masing. Petani, nelayan, pokoknya semua. Memang seolah-olah pemerintah itu mau membina, tetapi ternyata bukan. Semua organisasi itu kurang lebih hanyalah organisasi kosong, yang tujuan dan pekerjaannya cuma untuk memperkuat pemerintah, tak perduli dalam posisi salah atau benar.

Shohib menjadi Ketua DPD IMM Sumut periode 1986-1988. Di bawah kepemimpinannya, IMM Sumut mematangkan aktifitas ilmiah. “Jadi acara baris-baris atau apel seperti yang lazim diselenggarakan oleh pemerintah dengan melibatkan OKP sebagai koordinator, sama sekali tidak pernah dihadiri. Itu waisting time saja,” katanya. Menurutnya, lebih baik memenuhi prinsip-prinsip SKS dan aktivitas ilmiah lainnya. Jadi tak ada waktu untuk baris-berbaris yang penuh proforma dan formalisme.

Suatu ketika, Shohib pernah dipanggil oleh Kadit Sospol Tingkat I Sumatera Utara. Ini berkaitan dengan sebuah upacara pelantikan sebuah organisasi underbow partai politik yang di dalamnya, nama Shohib dicantumkan sebagai salah seorang wakil sekretaris. Ketika berhadapan dengan pejabat di Kaditsospol itu, dengan gelak Shohibul langsung mengatakan, “Bapak mau saya jadi pengurus partai the ruling class? Ambil kertas segel dan saya akan teken itu. Urusan kita selesai?”

Ia pernah terpilih sebagai Mahasiswa Teladan Kopertis Wilayah I (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau) pada tahun 1982. Ia juga pernah terlibat di lingkungan pers mahasiswa. Di Universitas Muhammadiyah Sumut (UMSU), Shohib pernah mendirikan dan menjadi Pemimpin Umum Menara Ilmu, sebuah buletin kampus yang diasuh oleh mahasiswa di bawah arahan Purek III UMSU (waktu itu dijabat oleh pakar bahasa Indonesia, Sabaruddin Ahmad) dan koran tabloid ESTAFETA (bersama aktivis kampus lain). “Pada zaman Orde Baru itu mendirikan sebuah penerbitan amat sulit, kalau bukan haram dan salah-salah bisa dianggap subversif. Jadi, tidak semudah sekarang,” katanya.

Beberapa jabatan pada lembaga kemahasiswaan pernah diamanahkan kepadanya. Ketum Senat Mahasiswa FISIP UMSU, Ketum Ikatan Mahasiswa Profesi Pekerjaan Sosial Indonesia (IMPPSI) Komisariat FISIP UMSU, dan Sekum Badan Koordinasi Kemahasiswaan UMSU.

Dengan aktivitasnya itu, bersama aktivis dari kampus lain, ia sempat menerbitkan 2 judul buku masing-masing “Muhammadiyah dan Kader Penerus” dan “Pembangunan Nasional dan Masa Depan Bangsa”.

Sejauhmana Anda melihat dugaan penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan kampus?
Ya, saya sudah mendengar dan amat terpukul karenanya. Misalnya soal adanya orang yang cuma mendaftar sebagai mahasiswa, lalu hanya datang sesekali untuk ujian, itu pun tak penuh. Pada waktunya ikut pula diwisuda bersama mahasiswa lain. Pekerjaan kriminal seperti ini hanya mungkin dilakukan oleh orang yang bermotif mencari keuntungan material dengan pengorbanan atas nilai-nilai luhur pendidikan. Itu harus disudahi, sikat jaringannya dan mereka harus dihadapkan pada pengadilan pidana. Kalau tak begitu, jaringan seperti ini bisa kambuh sewaktu-waktu. Biarlah mereka bayar perbuatan mereka dengan bermukim sementara di hotel prodeo, sebab itu memang pantas untuk rehabilitasi diri mereka.

Tapi itu ‘kan umum terjadi di kampus manapun?
Itulah. Isu miring lainnya yang membuat hati geram juga pernah saya dengar tentang distribusi bantuan pemerintah untuk para calon sarjana yang akan menyelesaikan skripsi. Bantuan itu sudah diatur oleh pemerintah untuk orang-orang yang kriterianya amat jelas. Misalnya mahasiswa yang bukan PNS. Ada sejumlah besar mahasiswa berstatus PNS yang memperoleh secara administratif, namun duitnya sebetulnya dimakan sendiri oleh orang-orang dalam. Mahasiwa PNS itu mungkin disodori daftar untuk ditandatangani dengan imbalan akan dipermudah untuk proses penyelesaian kuliah, termasuk nilai ujian dan kemudahan-kemudahan lain. Ini kan mafia, anti keadilan dan anti terhadap program pemerintah. Mereka harus dibersihkan.

Shohibul lahir pada 14 Maret 1958 di Tarutung. Istrinya bernama Rosnadana, seorang  lulusan IKIP Medan (Unimed sekarang). Anaknya empat orang. Si sulung bernama Ikhtiyar Zitraghara Nalar Siregar, SMU Kls II. Katanya, anak tertuanya ini suka musik dan politik. Kemudian Dzulhajj Aeyn Abe Tondi Siregar, kls I SMA. Hobinya, beladiri, melukis, dan grafika. Ketiga, Dhabit Barkah Siregar, Kls II SMP. Anak ini suka petualangan, ingin jadi orang kaya raya dan pergi kemana-mana. “Ayah itu payah gak ada uang biarpun banyak kawan,” komentar Dhabit kepada ayahnya. Terakhir, Ijtihad, Kls III SD. Menurut Shohib, si Ijtihad belum tahu apa menjadi dokter akan lebih baik ketimbang ahli persenjataan di militer. Kalau ditanya cita-ditanya, cuma satu jawabannya, kata Shohib, “Tihad suka mama.”

Ayah Shohibul bernama Abdullah Siregar, seorang guru sambil bertani dan ibunya Thobinah Pasaribu, ibu rumah tangga. “Bahasa kerennya sekarang, ia mengurus manajemen sawah di kampong saja,” komentar Shohib soal ibundanya.

Garis kultur akademiknya kemungkinan besar mengalir deras dari ayahnya. “Bapakku sering bilang, ayah akan sekolahkan kalian setinggi yang kalian mau dan daya mampu ayah. Itulah warisan ayah untuk kalian. Harta kita tidak ada. My father was a strong figure who made me a strong vision about the this word and the future,” kenang Shohib.

Ia memang anak ayah. Sewaktu kecil Shohib sering dibilangin orang “anak hajut”, artinya seolah sebuah tas yang selalu ada di bahu ayah, dibawa kemanapun pergi. “Ia amat sederhana, tak suka marah. Disegani meski tak banyak cakap. Ia tak mau duduk di warung. Ia imam masjid sambil mengajar anak-anak mengaji ngaji antara Maghrib dan Isya. Ia meninggal 1986 setelah lama menderita sakit pencernaan dan setelah menjalani operasi di RS Pirngadi. Aku memang lebih dekat dengan ayah. Ah, sudahlah,” katanya.

* * *

BIOGRAFI

Pendidikan
SDN dan SD Muhammadiyah Sibulan-bulan Taput
PGA 4 Tahun Peanornor (1974)
PGA 6 Tahun Padangsidempuan (1976)
FISIP UMSU (1985)
PPs Sosiologi Universitas Gadjah Mada (1995)

Karir
Kepala Biro Umum UMSU
Sekretaris Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UMSU
Kepala Biro Kemahasiswaan UMSU
Kepala Litbang UMSU
Direktur Growth Centre Kopertis I NAD-Sumut (1996 – 1999)
Staf Ahli Rektor UMSU
Staf Ahli DPRD Sumut (1999-2009)
Staf Ahli Kajati Sumut bidang Sosial dan Politik (2002-2003)
Direktur ‘nBasis

Organisasi Muhammadiyah
Ketua DPD IMM Sumut (1986-1988)
WaSek Majlis Dikdasmen PWM Sumut
Sekretaris Majlis Pustaka dan Ketua Badan Litbang PWM Sumut
Majlis Hikmah (bidang Politik) PWM Sumut
Sekum Forum Komunikasi Alumni (FOKAL) IMM Sumut.

9 thoughts on “Shohib Sang Pemberontak

  1. Saya pernah dicari-cari oleh orang ini untuk kepentingan wawancara terkait penelitian tentang Muhammadiyah. Itu terjadi sekitar tahun 1985. Tak saya kira ia tidak selesaikan PhD seperti ia pernah janjikan kepada saya dulu.
    Mudah-mudahan ia masih punya waktu dan “kesanggupan” untuk itu kelak.

    Like

  2. Ah, Mr Nakamura. Saya tak tahu kalau dia berjanji soal PhD itu kepada Anda. Dia tak bercerita kepada saya ketika wawancara. I’m really sure, that’s gonna be happen immediately.🙂

    by the way, kapan saya berwawancara dengan anda?

    Like

  3. Bung shohib, satu di antara sedikit intelektual di Sumut, yang masih layak dijadikan ‘guru’ di berbagai bidang utamanya soal integritas dan idealisme. Dia intelektual lokal berkelas nasional….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s