Bukan Saya Yang Natalan


Masalah agama luar biasa sensitif. Walau sudah merasakannya sejak lama, tapi tetap saja ketika saya bicara agama dengan beberapa rekan, sensitivitas itu masih sangat kuat. Soal natal, misalnya. Problem ini memang bukan barang baru alias stok jadul. Teman saya itu bilang, haram hukumnya mengucapkan natal bagi umat kristen.

Di titik ini, saya tak terlalu berbeda dengan dia. Malah, ketika natal tiba, ada keengganan untuk berjumpa dengan teman yang umat kristen. Soalnya, dalam hukum tata krama sosial masyarakat, ketika dia sedang dalam “berlebaran”, kok tidak diberi ucapan selamat. Jadi, daripada kikuk, lebih baik menghindari diri.

Saya merasa terganggu. Saya bisa saja mengucapkan kepada teman yang kristen itu kalau saya tidak bisa memberinya ucapan selamat karena keyakinan saya mengharamkannya. Dan untunglah teman saya yang kristen biasanya asyik-asyik saja. Tapi ini terus menggelisahkan. Bukan karena takut kalau pandangan orang non muslim terhadap Islam bakal jadi hancur atau tidak (bila tidak mengucapkan selamat baginya), tapi benarkah demikian adanya?

Hingga kemarin, terus-terang saja, saya belum melihat naskah asli fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) soal haramnya pengucapan natal ini. Saya tahunya hanya dari keluarga, guru mengaji dan teman-teman lain yang pengetahuan agamanya lebih tinggi. Saya cari fatwa itu dan ketemu. Bagi Anda yang ingin melihat fatwa itu, ini linknya.

Fatwa ini dikeluarkan tahun 1981. Waktu itu, umur saya masih tiga tahun dan pasti tak mengerti soal ini. MUI masih dipimpin Buya Hamka, salah seorang ulama besar Indonesia. Marak di kala itu, orang Islam dan biasanya para pejabat yang muslim, ikut merayakan natal. Mereka menjadi panitia, duduk, bernyanyi bersama dan seterusnya. MUI memandang ini bisa meruntuhkan akidah umat Islam secara keseluruhan, apalagi yang awam. Nabi Isa memang merupakan salah satu nabi dalam Islam dan soal kelahiran nabi Isa ini kemudian menjadi salah satu justifikasi mereka yang, kebetulan atau tidak, merayakan natal bersama. Tapi saya tak ingin menyinggung soal umat Kristen yang menjadikan Isa sebagai Jesus. Itu soal lain.

MUI pun mengharamkan. MUI memandang, konsep toleransi agama sudah ditafsirkan kebablasan dan cenderung disalahartikan.

Secara keseluruhan, saya setuju isi fatwa ini. Tapi anehnya, dalam fatwa ini, tak disinggung soal haramnya mengucapkan selamat natal. Saya menduga, fatwa ini kemudian ditafsirkan meluas betul. Bila ikut merayakannya saja haram, apalah lagi mengucapkannya. Bukankah mengucapkan biasanya menjadi salah satu bagian dari merayakan?

Di titik inilah kening berkerut. Bagaimana mungkin ulama di MUI akan selalai itu melupakan hal-hal yang juga sensitif seperti pengucapan itu? Atau jangan-jangan, soal pengucapan memang tak termasuk dalam fatwa ini?

Soal hukum Islam, setahu saya begitu terperinci. Sejak zaman nabi hingga sekarang, para faqih tidak akan sembarangan mengeluarkan fatwa. Fatwa fiqih umumnya sangat mendetail dan hanya dikhususkan pada satu kasus saja. Masalah tata cara shalat dipisahkan antara gerak-gerik shalat dengan bacaan dalam shalat.

Dalil naqli, aqli dan metode pengambilannya pun tidak sembarangan. Dan karena kekhususan ini, tak gampang menjadi seorang faqih, dan dengan demikian tak sembarangan pula menarik suatu ijtihad. Tapi saya ingin menggaris bawahi, hal itu hanya dalam urusan fiqh dan ibadah. Karena untuk ijtihad misalnya dalam soal sosial politik kemasyarakatan dan hal-hal umum lainnya, kreativitas menggali Islam bahkan sangat dianjurkan bagi semua orang.

Kalaulah semua orang dibenarkan menarik ijtihad dalam masalah-masalah fiqh Islam, maka hukum pun akan menjadi tidak teratur, tumpang tindih dan akhirnya membingungkan masyarakat. Akibat paling jelek sudah bisa diterka, masyarakat pun menjadi sesat.

Karena itu, saya berhusnudzhan pada ulama MUI. MUI memang tidak mengatur soal pengucapan itu. Soal pengucapan bukanlah bagian dari fatwa itu. Jikalau MUI memang mengharamkan pengucapan selamat, maka pastilah MUI akan mengaturnya, baik dalam fatwa tersebut ataupun fatwa baru.

Kemungkinan, waktu itu masalah pengucapan belum sederas masalah ikut merayakan. Kemungkinan yang lain, MUI memang menganggap hal tersebut tidaklah haram. Bilapun setelah fatwa itu keluar, ada masalah haram atau tidaknya pengucapan, selayaknya memang MUI membuat fatwa baru. Tapi seandainya hingga sekarang MUI tidak membuat fatwa itu, maka kesimpulan sementara yang ada di benak saya adalah MUI memang tidak menganggap hal itu haram.

Kalaupun MUI nantinya akan membuat fatwa baru soal itu, seyogyanyalah MUI tidak mendasarkan atau menafsirkannya dari fatwa natalan yang sudah ada.

Toh, bukan saya yang merayakan natal, tapi dia. (*)

* * *

foto: http://www.davidosler.com/egypt%20strikers.jpg 

3 thoughts on “Bukan Saya Yang Natalan

  1. Bagi saya sudah jelas sekali MUI melalui fatwanya melarang pengucapan selamat natal seperti kutipan anda..
    “….Bila ikut merayakannya saja haram, apalah lagi mengucapkannya. Bukankah mengucapkan biasanya menjadi salah satu bagian dari merayakan?”

    Ini yang saya kuatirkan dari kebablasannya toleransi, jika kawan2 yang non muslim begitu tulus dan ramahnya mengucapkan selamat idul fitri dan sebagainya kemudian kita merasa berhutang. Bukankah toleransi adalah saling menghargai keyakinan masing2, jadi seandainya keyakinan kita melarang yah cuek saja dan harusnya mereka yang non muslim harus mengerti dan ini yang disebut toleransi seutuhnya.

    Bentuk toleransi yang kita berikan kepada kawan kita yang non muslim adalah dengan membiarkan mereka melaksanakan ritual keagamaanya dalam memperingati natal ini, dan saya rasa anda tidak perlu untuk menghindari kawan2 anda yang non-muslim hanya karena tidak enakan saja🙂

    Bukan saya yang natalan, itu judul tulisannya.🙂 Tenang saja, saya tak punya hutang apapun sama kawan saya yg kristen. Tak ada yang tak saya setujui dari komentar Anda ini.

    Salam untuk Anda.😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s