Ali Shari’ati dan Tugas Cendekiawan Muslim (1)


“I have no religion, but if I were to choose one, it would be that of Shariati’s.”

Jean-Paul Sartre

* * *

Ini versi Dr Mukhtar Effendy Harahap (seorang intelektual dari Universitas Gajah Mada) yang dikatakan langsung kepada saya soal kandungan buku Tugas Cendekiawan Muslim karangan Ali Shari’ati . Menurutnya, ada empat tipikal manusia, terutama dan dikhususkan pada manusia Islam, yang membuatnya berbeda dengan manusia-manusia lainnya.

Tipikal pertama adalah ilmuwan. Seorang manusia mesti mencari tahu soal kehidupan dan alam semesta dalam serangkaian penelitian ilmiah. Ilmu pengetahuan menjadi prasyarat pertama sebelum seorang manusia dikatakan sebagai manusia. Ia berbicara tidak hanya berlandaskan asumsi-asumsi, praduga-praduga subjektif, dan emosional belaka, tapi berdasarkan bukti-bukti kongkret melalui serangkaian metode keilmuan. Ia belajar mulai dari dasar, dari ketidaktahuannya akan sesuatu dan kemudian menjadi tahu akan sesuatu.

Beranjak dari tipikal pertama, ia memasuki tahap kedua, yaitu intelektual. Di sini, persinggungannya dengan masyarakat sudah dimulai. Ia mulai memberikan pengetahuannya kepada masyarakat dan terutama sekali kepada pihak penguasa. Seorang intelektual bertugas membimbing masyarakatnya untuk mencari tahu dan mengarahkan kepada tujuan yang ingin digapai, sebuah tujuan yang bukan didasarkan atas konsensus bersama atau orang banyak (kuantitatif) tapi berdasarkan tujuan-tujuan murni dari kemanusiaan. Ia memperingatkan penguasa bila jalan yang diambil penguasa mematikan kadar positif manusia, menghempang kreativitas manusia, ataupun menindas kebenaran dan keadilan.

Kaum intelektual bukanlah bagian dari penguasa tapi merupakan bagian dari masyarakat yang tidak hanya melakukan kritik dan kontrol sosial, tapi juga melakukan dan menawarkan ide-ide baru yang bisa membuat masyarakat berubah dari kondisi kejumudan, taqlid, menjadi suatu generasi kreatif yang bergerak maju ke depan. Kaum intelektual tidak pernah takut akan pengorbanan, dan malahan pengorbanan dan resiko merupakan salah satu jalan yang harus dilalui.

Dari intelektual, ia memasuki tahap ketiga yaitu ideolog. Ideolog bukanlah orang yang menguasi mimpi-mimpi kosong berdasarkan interest politik sesaat. Tapi ia merupakan orang yang mendasarkan gerakannya pada ilmu pengetahuan dan kebenaran sejati. Ia memobilisasi massa dan mengorganisirnya dalam suatu kelompok untuk melakukan perubahan. Kebanyakan ideolog tidak tertarik pada konsep evolutif atau kompromis dengan kekuasaan tapi berusaha menerjang kekuasaan dan menjungkirkannya. Ia memberikan pencerahan dan kekuatan kepada masyarakat dan bersatu serta memimpin mereka untuk melakukan perubahan.

Tahap terakhir dari manusia adalah menjadi seorang ulama. Mukhtar mengatakan, ulama yang dimaksud bukanlah dalam kategori “ustadz”. Saya harus memberi tanda petik pada kata “ustadz”, karena menurut Mukhtar, di Indonesia tidak ada ulama, tapi hanya “guru-guru ngaji”. Para “guru-guru ngaji” ini lebih memandang penting persoalan berapa kali Anda menuangkan air ke wajah Anda ketika berwudhu tapi sama sekali tidak mengetahui kalau ketidakadilan sedang terjadi pada orang yang berwudhu itu. Ia sama sekali menutup mata pada kemiskinan yang selalu menjadi pengunjung tetap mesjid dan mushola. Ia tegoda dengan golongan berdasi yang melakukan korupsi tapi menyumbang besar pada pembangunan mesjid.

Bagi Mukhtar, dalam interpretasinya terhadap pemikiran Ali Shari’ati, seorang ulama adalah pemimpin besar dalam masyarakat, yang sudah melampaui ketiga tahap sebelumnya. Dengan jelas ia menunjuk figur Ayatullah Ali Khomeini sebagai figur ulama di zaman modern yang mampu menyandang predikat itu. Ia sekaligus seorang ilmuwan, intelektual, dan ideolog.

Anda boleh setuju atau tidak dengan Mukhtar. Tulisan ini diperbuat tidak untuk mengupas sangat jauh soal pemikiran Ali Shari’ati dalam bukunya itu. Buku ini sendiri merupakan kumpulan ceramah kuliah yang disampaikan oleh Ali Shar’ati yang berjudul Man and Islam dan kemudian diterjemahkan Dr. Amien Rais.

Sungguh saya harus mengatakan, saya pun tidak terlalu jauh memahami pemikiran Shari’ati. Pun demikian, makalah ini bukanlah sebuah resensi tapi lebih merupakan penafsiran semata atas pemikirannya, sejauh yang saya ketahui. Namun minimal, saya juga ingin mengetahui, mengapa Amien Rais harus mencantumkan kalimat dalam kata pengantar-nya yang membuat saya tergelitik, yaitu:

“Dr. Ali Shari’ati adalah seorang Muslim Syi’i sedangkan penerjemah adalah seorang Muslim Sunni. Dorongan untuk menerjemahkan buku ini bukanlah untuk menawarkan percikan-percikan pemikiran Syi’ah di Indonesia. Bagi penerjemah, perbedaan Syi’ah – Sunnah adalah warisan historis kuno yang telah menyebabkan lemahnya umat Islam sebagai satu keseluruhan. Yang perlu kita kerjakan bukan membongkar-bongkar konflik politik masa silam yang jelas tidak akan ada manfaatnya.”

* * *

… bersambung (Ali…2)  

8 thoughts on “Ali Shari’ati dan Tugas Cendekiawan Muslim (1)

  1. jika membaca tulisan ini, aku jadi semangat lagi. semangat buat belajar, semangat buat kerja, dan semangat buat bisa nolongin orang lebih banyak…
    thanx buat tulisan yang menginspirasi….

    Like

  2. Saya melihat masing-masing keilmuan di Dunia Islam punya jagonya masing-masing. Misalnya, untuk bidang tasawuf, posisi Ibn al-Arabi tak tergeser dalam ketokohannya sebagai sufi yang ‘filosof’. Kajian-kajian tentangnya sampai sekarang tetap diminati. Bahkan di Barat sudah ada komunitasnya. Untuk bidang filsafat, ketokohan Mulla Shadra cukup memukau hingga menghasilkan banyak pengikut. Sementara, di bidang fikih, tak terhitung banyaknya ahli fikih Sunnah dan Syi’ah yang hingga sekarang memiliki banyak pengikut seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali dan Imam Jafar sebagai guru mereka, langsung maupun tak langsung. Nah, Ali Syari’ati, jagonya sosiologi Islam. Meski meledak-ledak dan sedikitnya materi kontemplatif, ia tak kehilangan fans terutama bagi kalangan aktivis. Satu hal yang dipesankan oleh Imam Khomeini adalah bahwa kalau kita membaca Syari’ati, hendaknya membaca karya-karya Muthahhari terlebih dulu.

    Like

  3. salam
    terimakasih atas nasehat yang sangat berharga ini. Saya setuju dengan Anda. Mungkin persentuhan saya justru mulai dari shari’ati, mutahhari, baqr shadr, khomeini hingga Mulla Shadra. Walau saya masih sedikit sulit memahami pemikiran-pemikiran itu.

    Aneh memang bila Imam Ja’far yang menjadi guru di bidang fiqh bagi imam-imam yang lain, justru diketepikan.

    Meski demikian, alhamdulillah, Mutahhari juga menjadi salah satu referensi, saya cantumkan salah satu bukunya (duh, terjemahan pula😦 ) di referensi tulisan bagian ke 6 (saya kira tulisan ini terlalu panjang🙂 .

    Namun, shari’ati agaknya sekarang sudah berkurang fansnya di Indonesia apalagi di Medan.🙂

    Like

  4. Hello,
    I just saw your blog about Dr Ali Shariati. I couldn’t read it! What language are you using?
    Also, I would like to know your views about him.
    My blog is in English and I am putting articles by Shariati about Islam.

    Like

  5. 😀 ah..can’t read it? it’s indonesian languange, this is an indonesian blog. Blog in english is under construction…🙂 i can’t promise. btw, where is u’r blog address?

    Like

  6. tahun 98 awal persentuhan saya dengan para pemikir Iran, khususnya Ali Shariati dan Muthathahari,. bener kalo baca bukunya shariati yang lunglai jadi semangat lagi. buku tuh sangat inspiratif, menggugah dan membebaskan…. kadang aku berpikir, kalo sepertiga dari intelektual muslim di negeri kita baca tulisan-tulisannya belia, mungkin nasib kita akan cepat berubahnya……
    hasan_upd@yahoo.com 081321874872

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s