Ali Shari’ati dan Tugas Cendekiawan Muslim (5)


Penjara Manusia dan Ideologi
Manusia dalam kesempurnaannya, memiliki tiga sifat (atribut) yang saling berkaitan yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. Sekilas pandangan ini sangat mirip dengan aliran eksitensialisme dalam filsafat seperti diutarakan oleh Jean-Paul Sartre . Namun bagi Shari’ati, eksitensialisme sebagai ideologi nampaknya telah mengorbankan realitas manusia yang tertinggi.

Shari’ati mengemukakan empat penjara yang mengungkung manusia ke arah kemajuan, yaitu materi, alam, sejarah, dan masyarakat.

Secara ringkas, di sini diungkapkan bahwa ilmu pengetahuan dapat mengatasi manusia untuk mengatasi determinasi materi dan alam. Shari’ati memandang, bahwa determinasi sejarah dengan pola tahapan-tahapan dapat dilompati dengan gerak revolusi. Shari’ati tidak percaya pada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh masyarakat. Determinasi historis hanya dapat diatasi oleh suatu masyarakat, bila manusia mau mempelajari sejarah secara utuh, detail, dan komprehensif, sehingga ia menemukan bagaimana cara untuk melopati tahapan-tahapan sejarah seperti yang sering diungkapkan para ilmuwan. Kungkungan sejarah ini begitu besarnya, hingga setiap manusia yang berusaha merubah dirinya, pun harus tunduk pada kemauan sejarah.

Namun, bagi Shari’ati kesulitan terbesar pada umat manusia adalan mengatasi penjara keempat yaitu egonya sendiri. Manusia menjadi tawanan oleh dirinya sendiri. Walaupun ia sudah menjadi manusia modern yang telah membebaskan dirinya, ia masih tetap terbelenggu di dalam penjara gelapnya ego, tanpa mengetahu bahwa cara ke luar dari penjara tersebut.

Penjara ego tidak mempunyai dinding, sehingga ia sendiri tidak mengetahui batasan-batasan penjara tersebut, seperti penjara-penjara yang lain. Ia menyebut eksitensialisme dan “hippi-isme” telah menemui jalan buntu untuk memecahkan persoalan ini. Eksistensialisme telah berhasil dalam mengangkat kemauan dan gerak bebas tiap manusia, tapi kemudian tertumbuk pada absurditas yang tidak terelakkan. Kalaupun ia dapat mencari esensi dari hidupnya, ke mana esensi itu akan diarahkan. Seorang mahasiswa mungkin menemukan bahwa ijazah kuliahnya adalah esensinya tapi kemudian ketika ijazah itu tidak bisa dipakai dalam mencari lapangan pekerjaan, maka ia akan meratapi dan menyesali dirinya dan kembali pada stress berkepanjangan. Jawaban Shari’ati terhadap persoalan ini sungguh tidak disangka-sangka, yaitu cinta!

Dalam cinta, ia menemukan sebuah kehangatan dan kekuatan perkasa yang bisa membuatnya melawan dirinya sendiri. Shari’ati mencontohkan kehidupan Nietszche yang menurutnya harus membongkar ulang seluruh filsafatnya pada akhir hidupnya.

Suatu hari Nietszche berjalan menyusuri dan menemukan seekor kuda yang terperosok ke dalam parit dan berusaha ke luar dari parit itu. Kuda itu bernafas terengah-engah karena tidak bisa keluar disebabkan muatan barang-barang yang ada di di atas badannya. Nietszche mengamati si pemilik kuda berusaha mengeluarkan kuda dari parit itu dengan memaksanya ke luar dari himpitan itu. Tapi si pemilik kemudian mengayunkan cemetinya kepada kuda dengan bengis agar kuda tadi mau berusaha ke luar sendiri. Si kuda bisa bergerak sedikit tapi kemudian terperosok kembali. Marah menyaksikan pandangan yang mengerikan akibat brutalitas manusia itu, Nietszche memberitahukan agar si pemilik menghentikan cambukannya dan menyarankan agar muatannya diambil terlebih dahulu. Si pemilik tidak menggubris dan Nietszche pun marah dan menghardik dan mengatakan, “Saya tak akan membiarkan mu mencambuk binatang malang ini dengan kejam!”

Si pemilik kontak melepaskan dirinya dari Nietszche dan kemudian memukul Nietszche sehingga terjerembab dan mengakibatkan kematiannya beberapa hari kemudian. Shari’ati mengomentari peristiwa itu dengan kalimat: “Filosof yang di masa dimudanya mencintai kekuasaan dan kekuatan serta memujanya, sekarang berdiri melawan kekuatan itu untuk menyelamatkan makhluk yang lemah dan terinjak-injak; akhirnya ia mengorbankan dirinya untuk suatu cita-cita kemanusiaan.”

Bagi orang-orang tertentu, tindakan Nietszche adalah di luar logika. Tapi bagi Shari’ati, logika terlalu sempit untuk membenarkannya. Tindakan Nietszche murni dari kesadarannya atas dasar cinta. Namun, jika cinta digunakan untuk memenuhi ambisi, kepuasan, dan kepentingan pribadi, jelas itu bukan cinta. “Itu adalah dagang,” tegas Shari’ati. Cinta adalah memilih dirinya mati agar yang lain dapat hidup, agar suatu cita-cita dapat menang, agar suatu impian menjadi kenyataan. Di titik inilah, empat penjara manusia bisa diatasi oleh manusia itu, dengan cara pengorbanan. Dan, ini pula yang diambil jalannya oleh Imam Husain dalam Tragedi Karbala.

Pengorbanan ini tidak terdapat dalam manusia-manusia modern (atau yang mengaku modern) sekarang. Para ulama tidak berkorban demi umatnya tapi demi kepentingan penguasa semata.

Shari’ati memandang, Islam yang ditemukannya bukanlah islam kebudayaan yang memajukan kepentingan kaum teolog, akan tetapi Islam sebagai ideologi yang mendorong para mujahid (pejuang), bukan Islam dalam sekolah-sekolah teologi dan juga bukan dalam tradisi yang sudah demikian awam. Seperti idolanya, Shariati mengatakan, jalan itu adalah Islam seperti dalam kehidupan Abu Dzar Al-Ghifari.

* * *

bersambung (Ali… 6)

One thought on “Ali Shari’ati dan Tugas Cendekiawan Muslim (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s