Ali Shari’ati dan Tugas Cendekiawan Muslim (4)


Sejarah Manusia
Sebagai ahli sejarah dan sosiolog, Shari’ati tidak bisa dipungkiri sangat memahami sejarah manusia dan masyarakat. Ia memandang materialisme yang digunakan masyarakat zaman sekarang, sebagai pembodohan dan degradasi dari hakekat manusia yang sebenarnya. Meletakkan pada alam yang berdiri sendiri dan terdiri dari mater-materi sehingga diperebutkan manusia, justru menjadikan manusia pada titik yang serendah-rendahnya.

Namun di sisi lain, ia juga memandang religiusitas yang diperlihatkan pada masa abad pertengahan, yang meletakkan “akhirat” sebagai tujuan, juga merendahkan nilai-nilai kemanusiaan, yang membuat manusia seperti mayat hidup (zombie) yang sedemikian taqlid terhadap pendeta (dan ulama) yang ironisnya bermotif politik kekuasaan. Ia menyerang dominasi gereja sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap intelektualisme. Contoh-contoh seperti pembunuhan terhadap Gallilleo Galilei yang kemudian membuat orang menjadi miris dan skeptis terhadap agama, dengan mengatasnamakan firman-firman Tuhan, merupakan penyebab timbulnya materialisme.

Shari’ati menyadari renaissance merupakan kebangkitan terutama dari intelektual dan semangat kemanusiaan, tapi di sisi lain, pengejaran materi yang berlebihan membuat manusia menjadi kering dan tidak berjiwa lagi, sehingga melupakan esensi sebenarnya dari manusia. Robot-robot manusia menjadi pemandangan sehari-sehari’; manusia dan sejarah kemudian disibukkan mengenai pencarian dan pemenuhan sarana kebutuhan hidup. Teknologi dan mesin, serta ekonomi menjadi tujuan dari revolusi industri yang terjadi di Inggris dan ini kemudian menyebar ke seluruh dunia. Meminjam bahasa Murthada Mutahhari, manusia dalam pandangan barat telah diruntuhkan sampai tingkat mesin.

Secara menarik, Shari’ati menggambarkan sejarah manusia dan pandangan hidupnya, dari kisah anak Adam, Qabil dan Habil. Bila Adam disebutnya sebagai asal muasal manusia, maka kisah Habil dan Qabil merupakan kisah awal “sejarah manusia”.

Cerita bermula dari pertunangan Habil dan Qabil dalam pertunangan saudara mereka masing-masing. Tetapi Qabil tidak puas; ia lebih memilih saudara perempuan yang telah diperuntukkanbagi Habil, daripada tunangannya sendiri. Ketidakpuasannya berkembang menjadi pemberontakan dan ia menemukan dirinya telah melanggar apa yang menjadi milik saudaranya itu. “Secara demikian, mulailah perang pertama antara kedua manusia itu,” kata Shari’ati.

Adam kemudian mendengarkan tuntutan-tuntutan tersebut dan kemudian emngusulkan agar mereka mempersembahkan pengorbanan dan kemudian disetujui oleh kedua pihak. Habil mempersembahkan seekor onta muda yang gemuk, hewan yang terbaik di antara ternaknya’; sedangkan Qabil membawa seonggok gandum yang tipis, layu, dan tanpa isi. Habil diterima sedang Qabil ditolak. Penolakan ini membuat Qabil menjadikan sejarah manusia diisi dengan pembunuhan, dan merupakan pertumpahan darah pertama dalam sejarah manusia; pembunuhan seorang saudara terhadap saudaranya sendiri.

Menurut Shari’ati, cerita ini menunjukkan bagaimana persatuan kemanusiaan yang berasal dari orang tua yang sama berubah menjadi konflik dan pertentangan yang abadi. Cinta sesama saudara berubah menjadi permusuhan, persatuan menjadi perpecahan. Shari’ati menelurusi sebab-sebab sosiologis dari perpecahan umat manusia yang pertama itu.

Menurutnya, orang tidak dapat mengatakan bahwa lingkungan Qabil, keluarganya, pendidikannya, dan masyarakatnya berbeda dengan Habil. Namun apakah perbedaan itu? Menurut Shari’ati, perbedaan itu terletak pada pekerjaan mereka, persembahan Qabil yang berupa gandum menunjukkan bahwa ia seorang petani, sedangkan persembahan Habil yang berupa seekor unta menujukkan bahwa ia seorang penggembala. Habil nampaknya mewakili tahap sejarah ketika eksistensi manusia tergantung pada alam – berburu, mencari ikan dan menjinakkan binatang-binatang buas. Sebaliknya Qabil mewakil zaman kepemilikan pribadi dan tahap pertanian ketika sumber-sumber dimonopoli oleh sebuah kelas penugasa. Juga pada zaman monopolisme inilah perjuangan untuk merebut kekuasaan sosial, ekonomik, dan kultural mulai mempengaruhi manusia.

Sebagaimana diketahui, zaman pertama kehidupan manusia di muka bumi adalah zaman pastoralisme (penggembalaan), zaman berburu dan mencari ikan. Pada zaman ini tidak ada sesuatu pun yang dimiliki secara pribadi atau dimonopoli, oleh karena sumber-sumber produksi melimpah terdapat di lautan, sungan-sungai, hutan, dan padang belantara. Alam merupakan pasar terbuka, penuh dengan berbagai kurnia dan kekayaan yang tersedia bagi semua orang untuk menikmatinya. Ini adalah zaman Habil dalam sejarah ketika seluruh manusia secara bebas dapat menjangkau seluruh sumber-sumber alam. Ketamakan, monopolisme, pemilikan pribadi, keakuan masih belum terdapat dalam masyarakat manusia. sebaliknya Qabil, mewakili periode sejarah di mana alam, tanah Tuhan, dimiliki dan dinamakan dengan nama pemiliknya.

Dalam rangka menambah milik pribadinya, manusa kemudian memperlemah dan merampas manusia-manusia lain sehingga mereka dapat dijadikan hamba dan budaknya. Karena manusia ingin memiliki alam, masyarakta manusia terbagi menjadi dua, antara tuan dan budak, antara penguasa dan yang dikuasai, antara penindas dan yang tertindas, antara pembunuh dan yang jadi korban. “Sejak Qabil hidup sepeninggal Habil, kita sayang sekali ditakdirkan menjadi anak cucu Qabil,” tulis Shari’ati.

Wajah-wajah Qabil yang hidup hingga sekarang terbagi pada tiga bagian, yaitu emas, kekuasaan, dan agama. Inilah yang terjadi pada imperialisme barat terhadap dunia timur dengan slogan gold, gospel, and glory. Dalam Islam, menurut Shari’ati, wajah ini berbentuk Qarun (emas). Fir’aun (kekuasaan), dan Balaam Bauri (kelas pendeta penguasa). Agama sesungguhnya menjadi kekuatan potensial yang ada dalam hati manusia, akan tetapi agama Qabil selalu digunakan alat di tangan para penguasa dalam setiap masyarakat manusia. Tiga wajah ini juga terdapat konsep Trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus) yang dijadikan sebagai kesatuan tunggal, pemujaan Tiga Api Ahuramazda dalam agama pra Islam di Persia, trinitarian dalam Yahudi, Yahudi, dan bahkan Islam.

Dalam meneliti masyarakat, Shari’ati kemudian memakai analisis marxis. Ia memandang, ketiga hal tersebut (agama, kekuasaan, dan emas/kekayaan), dimobilisir menjadi kelas penguasa. Tuhan menjadi alat untuk menyangga kekuasaannya. Namun, kemudian Shari’ati memajukan teorinya sendiri setelah meniliti lebih dalam soal sejarah. Ia menyatakan, pada abad 18 dan 19, di mana Renaissance mengalami zaman keemasannya, kaum intelektual banyak yang tertipu ketika agama, setelah kehilangan esensi sesungguhnya, diubah menjadi suatu bentuk spritualitas palsu, atau ia diubah menjadi semacam humanisme yang sesuai dengan ilmu positif dan rasionalisme dengan elemen-elemen yang diturunkan dari logika dialektik dan instink manusia. Dengan tegas Shari’ati menyatakan bahwa pandangan-pandangan dunia yang materialistik dan anti agama adalah juga dualistik dan semua ini merupakan pandangan hidup praktis dari kelas penguasa modern dalam berbagai masyarakat dunia.

Faktor pertama yang memajukan suatu pandangan materialistik adalah ilmu atau sains. Faktor kedua adalah sosialisme, setelah mendasarkan prinsip-prinsip pokoknya atas materialisme, sosialisme muncul sebagaisuatu kekuatan yang tangguh dalam melawan agama pada abad ke-19. Pada zaman pertengahan, feodalisme yang dibangun dan dibenarkan oleh agama, merupakan infrastuktur, sedangkan agama menjadi superstrukturnya. Namun kemudian, feodalisme berangsur-angsur turun dan diganti dengan kelas borjuis.

Kiranya tak perlu saya perpanjang uraian tersebut di sini, tapi cukuplah bila dikatakan, pemikiran Shari’ati soal pandangan hidup meletakkan Islam sebagai pandangan hidup yang meletakkan posisi manusia pada martabat sebenar-benarnya. Tiga wajah – emas, kekuasaan, dan agama- merupakan turunan dari konsep Qabil yang dipraktekkan sekarang dalam bentuk materialisme.

* * *

bersambung (Ali..5)

7 thoughts on “Ali Shari’ati dan Tugas Cendekiawan Muslim (4)

  1. sipp mas lahandi!😀 tulisannya dah dipost sejak lama, sampai nomer enam.🙂

    oiya…lahandi.deviantart.com nya pun mantap kaleee…

    Like

  2. wah………!!!
    asyik bner crita na…….
    leh ni sambungan na ditulis…..
    gw jadi penasaran ni bang….
    ditunggu ya…..!!??

    Like

  3. terimakasih atas komentarnya😀 sungguh senang sekali

    btw..untuk melihat keseluruhan tulisan soal Ali Shariati dan Tugas Cendekiawan muslim 1-6, silahkan rujuk di rubrik ISLAM.

    mudah-mudahan bermanfaat.

    Like

  4. @ ghariend: di blog ini juga…rujuk ke kolom RUBRIK di sebelah kanan atas…klik n pilih Islam…link sambungannya ada di sana..tks

    Like

  5. Kawan…, “Tugas Cendikiawan Muslim”nya Ali Shariati adalah salah satu buku favorit saya.. Ditunggu sambungannya… Tabik…

    Di blog ini, sila rujuk ke “NGARSIP” di bulan “DESEMBER 2007″… Ali Shari’ati 1-6 …. Di situ ada versi lengkapnya.🙂 Salam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s