Ali Shari’ati dan Tugas Cendekiawan Muslim (3)


Manusia dan Islam
Sebagai ahli sejarah, filosof, dan sosiolog, jelas Shari’ati memahami Islam dan manusia dalam kerangka keilmuwan ini. Ia membahas soal manusia dari dasar-dasarnya dan memulai penjelajahannya dari ranah ilmiah barat serta kemudian memperbandingkannya dengan Islam.

Ia mengatakan, persoalan manusia adalah masalah yang paling penting dari seluruh masalah yang ada. Problematika yang timbul dalam sejarah semuanya ditimbulkan oleh manusia. Persoalan dunia adalah persoalan manusia, memahami manusia, sikap manusia, dan reaksi manusia terhadap alam.

Pemahaman dan penghargaan manusia juga menjadi isu sentral di Eropa (barat), sebagai salah satu kutub pemikiran di dunia. Salah satu yang memperjuangkan manusia dan kemanusiaan adalah humanisme.

Namun, menurut Sharia’ti, humanisme tidak memberi jawab yang memuaskan terhadap pencarian soal makna manusia. Peradaban dewasa ini telah mendasarkan fondasi agamanya pada humanisme – martabat manusia dan pemujaan manusia.

Alasan pokok mengapa humanisme memajukan kultus pada manusia adalah karena agama-agama di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas dunia, dan memaksa agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau Tuhan. Agama-agama lama memaksa manusia untuk memandang kemauannya sendiri sebagai sepenuhnya tanpa daya jika dihadapkan dengan Kemauan Ilahi, dan pendekatan manusia padaNya harus disertai sikap merendah dan penyerahan mutlak dengan berbagai sembahyang dan doa. Pendegradasian atas manusia, atas esensinya dan atas statusnya di alam semesta ini, sebagaimana diakibatkan oleh keyakinan-keyakinan lama, mau tidak mau membangkitkan humanisme di zaman Renaissance.

Sejak itu humanisme seringkali dipandang sebagai suatu paham modern yang tujuan pokoknya adalah mengagungkanmanusia itu sendiri serta esensialitasnya di tengah jagat raya – suatu elemen penting di masa renaissance yang diabaikan oleh agama-agama zaman pertengahan. Akar-akar humanisme berasal dari Athena, namun sebagai suatu faham unviersal, ia telah menjadi fondasi peradaban modern di Barat. Pada hakekatnya humanisme merupakan reaksi keras terhadap filsafat skolastik dan agama kristen zaman pertengahan.

Di tengah situasi itu, Shari’ati menyatakan Islam telah memberi jawab terhadap “kebingungan” yang dialami peradaban dan kebudayaan. Sebagai sosiolog agama, maka humanisme yang dimaksud Shari’ati adalah pemaknaannya terhadap manusia berdasar agama. Ia menyatakan Islam merupakan “kontinuasi atau kelanjutan dari agama-agama Musa, Isa, dan Ibrahim.” Karena, pencarian hakekat mengenai manusia harus dicari dalam sejarah manusia itu sendiri versi agama.

Dalam Islam, penciptaan manusia diceritakan dalam kisah Adam. Adam berposisi dalam dua status sekaligus, sebagai manusia dan nabi pertama. Hanya saja, menurut Shari’ati, penafsiran atas penciptaan Adam dalam Al-quran tidak bisa diletakkan dalam arti harfiah. Menurutnya, bahasa yang ditampilkan Alquran adalah bahasa simbolik. Ia mengatakan, penafsiran tekstual terhadap Alquran hanya membatasi kandungan dan makna alquran itu sendiri.

Ia memberikan argumentasi, bahasa simbolik dipergunakan karena bahasa ini adalah suatu bahasa tidak basi karena perjalanan waktu dan pergantian dalam kebudayaan dan peradaban manusia. Bahasa simbolik juga adalah kekuatan sentral dalam agama yang melestarikan evolusinya yang potensial, menguak kebenaran-kebenarannya yang lebih dalam dan lebih tersembunyi dengan cara bertahap. Banyak makna-makna dalam agama yang tidak jelas pada masa pemunculannya, maka agama tidak mengirimkan pesan-pesannya dengan bahasa yang awam dan sudah dikenal pada waktu itu, agama tersebut akan sulit sekali dimengerti oleh manusia pada zamannya.

Ia mengatakan: “Akan tetapi, sebaliknya jika agama memilih untuk mengekspresikan berbagai maknanya dengan bahasa awam, ia tidak akan memiliki arti baru dan kehilangan makna pada masa-masa berikutnya.”

Dengan argumentasi ini, Shari’ati pada dasarnya mengatakan relevansi Islam bukanlah hanya berlaku pada umat terdahulu saja. Di titik ini pula, faktor bahasa menjadi salah satu faktor untuk menafsir Al-quran. Dengan logika ini, Shari’ati menjawab kritik bahwa Al-quran tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Yang terjadi adalah penafsiran tidak bisa dimonopoli mutlak kebenarannya pada seluruh zaman, karena kebenaran yang terkandung dalam Alquran akan terus terurai satu persatu secara terus-menerus dan tak pernah berhenti. Dalam bahasa Jalaluddin Rakhmat, mengingkari Alquran dan Rasul adalah kafir, sementara mengingkari tafsir terhadap Alquran dan Rasul bukanlah kekafiran.

Dalam kerangka bahasa simbolik ini juga, Shari’ati menyatakan bahwa penciptaan Amdam juga diceritakan dengan simbolik. Dengan argumen ini, maka lunturlah pandangan bahwa proses penciptaan Adam hanya seperti penciptaan kue oleh tangan-tangan koki-koki masak, penciptaan sebuah patung oleh pemahat, penciptaan sebuah novel oleh sastrawan, ataupun seperti lahirnya telur dari induk ayam.

Mari kutip ayat Alquran yang menceritakan proses penciptaan ini seperti dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 30 – 32:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Shari’ati memberikan tafsirnya terhadap penciptaan alam sembari mengkritik pandangan humanisme Eropa terhadap manusia. Menurutnya, adalah Islam memberi pandangan dan nilai yang sangat mulia dan sangat suci terhadap manusia, tidak seperti humanisme Eropa memandang manusia. Argumen Shari’ati, jelas tertumbuk pada anugerah luar biasa yang diberikan Tuhan, pencipta dan penguasa jagat raya, teleh memilih manusia sebagai wakilNya di muka bumi. Adakah penghormatan yang lebih besar dari itu?

Referensi kedua Shari’ati adalah “bahan” dasar manusia itu. Seperti diketahui manusia terdiri dari bentuk tubuh dan ruh, dengan asal yang berbeda. Tubuh dijadikan dari tanah liat, sedangkan jiwa dijadikan dari tiupan ruh Tuhan. Arti penciptaan fisik menurut Alquran tidak hanya diberikan dalam makna diciptakan dari tanah, tapi juga dari air mani (sementara yang lain mengatakan air yang kotor dan hina). Dengan dua hakikat yang berbeda ini, tanah dan ruh yang suci, maka seorang manusia menjadi sosoknya yang sekarang. Ali Shari’ati memandang, seluruh manusia memandang ruh atau jiwa, merupakan wilayah yang paling suci dari manusia. Maka bagaimanakah level kesuciannya itu bila Allah sendiri menyatakan dengan tegas dalam Al Hijr 29: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh -Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Sesungguhnya ruh yang ditiupkan itu adalah Ruh Yang Maha Suci adalah spirit yang maha sempurna, yang paling suci di antara semua spirit dan di antara seluruh entitas yang ada di dalam semesta. Level kesucian ini tidak diberikan kepada makhluk lain di seluruh alam semesti, mulai dari malaikat, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk alam semesta lainnya.

Dengan argumen ini, maka humanisme yang dibawa Eropa (dan Barat) sungguh mengalami pertanyaan besar ketika dalam pandangannya mereka mengenai manusia mereka justru mendudukkan dan menjatuhkan martabat manusia pada sesuatu yang diciptakan oleh alam (naturalisme), lingkungan (behaviorilisme), pikiran (rasionalisme), sampai pada manusia itu sendiri (egosentrisme dan eksistensialisme). Ali Shari’ati menulis dengan tegas, “Ini adalah arti sebenarnya dari humanisme.”

Dengan bahasa simbol itu juga, Shari’ati memberikan tafsirnya bahwa penciptaan wanita dari “rusuk” pria, seperti yang selalu dituduhkan bahwa Islam memandang remah terhadap wanita, merupakan tidak tepat sama sekali. Ia memberikan pandangan, bahwa wanita diciptakan dari esensi yang sama dengan pria.

Dengan penciptaan yang sedemikian luar biasa dan suci itu, menurut Shari’ati, manusia kemudian mendapatkan dan mempunyai kemampuan untuk memegang sebuah tugas suci sebagai pemegang amanat-Nya, yang mulanya ditolak oleh seluruh alam semesta untuk mengembannya. Keterpengaruhan Shari’ati terhadap Jalaluddin Rumi tampak ketika ia menyetujui pandangan Rumi bahwa salah satu amanat yang diberikan Tuhan itu adalah free will atau kehendak bebas.

Manusia mempunyai kekuatan kemauannya atau kekuatan iradahnya, ia adalah satu-satunya makhluk yang dapat bertindak melawan dorongan instinknya – sesuatu yang hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak mampu melakukannya. Ia mencontohkan, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak pernah ingin berpuasa ataupun ingin melakukan bunuh diri atau berkelompok melakukan kejahatan. Hanya manusia saja yang dapat melawan dirinya, menentang hakekatnya, dan memberontak tehradap kebutuhan-kebutuhan fisik dan spiritualnya.

Di titik ini, ia memandang bahwa kedekatan antara manusia dan Tuhan adalah karena manusia lahir dari ruh Tuhan. Hanya Tuhanlah yang mempunyai kehendak bebas, yang mempunyai kemampuan untuk melakukan apa pun yang diinginkannya, yang mempunyai kemampuan Mutlak, dan kejadian yang sama juga terdapat pada manusia. “Manusia dapat berbuat mirip dengan Tuhan, tapi ia tidak bisa menjadi Tuhan,” kata Shari’ati.

Dalam kesimpulannya mengenai filsafat manusia, Shari’ati mengatakan, seluruh manusia tidak saja sama, tapi juga bersaudara. Persamaan adalah istilah hukum, sedangkan persaudaran adalah penegasan esensi yang identik dalam diri seluruh umat manusia terlepas dari latar belakang ras, seks dan warna kulit; persaudaraan berarti bahwa seluruh umat manusia berasal dari asal-usul manusia. Dengan argumen ini, ia menyindir sekaligus mengkritik filsafat Nietsczhe yang mengunggulkan ras Aria di banding bangsa lainnya di seluruh dunia, yang kemudian diterapkan secara membabi buta dalam fasisme Nazi. Ia juga mengkritik penggambaran Jesus Kristus, sebagai manusia suci di dalam Kristen yang dilukiskan “mempunyai rambut dan kulit putih”, yang dinilainya sebagai rekayasa Katolik Roma dalam mengunggulkan superioritas ras kulit putih di muka bumi.

Dengan dua esensi ini, ruh dan tanah, maka manusia mempunyai kewajiban pada dua hal yang menjadi “bahan” penciptaannya. Bumi (tanah) merupakan kehidupan dunia yang penuh dengan intrik, manipulasi, dan ketidakadilan sosial, sementara nilai-nilai dan amanat ketuhanan menjadi tujuan di satu pihak lagi. Nabi merupakan pengejawantahan dari kedua dimensi ini dalam tubuh manusia. Sebagai nabi ia bertugas ia memerangi ketidakadilan sosial dan membawa pada kesejahteraan dan keadilan sosial, sementara itu ia juga menyampaikan amanat dan perintah-perintah Allah di muka bumi.

* * *

bersambung (Ali…4)

One thought on “Ali Shari’ati dan Tugas Cendekiawan Muslim (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s