Taufik Versus Hudan, Bukan Tua Versus Muda


Relativisme menjalar bak ubi rambat. Di dalam tanah, akar-akarnya saling menguatkan dan kemudian membuahkan umbi. Ubi rambat adalah sejenis ubi atau singkong yang warnanya cukup menarik hati, magenta. Namun rasanya, relatif, ada yang suka maupun tidak suka.

Albert Einstein adalah penemu teori relativitas dan dari teori ini kemudian para sarjana berhasil mengembangkan sebuah bom paling mematikan dalam sejarah, bom atom. Einstein, konon pernah berkata begini ketika ia ditanya tentang teori relativitas,”When you sit with a pretty girl for an hour it seems like a minute, but when you are on a hot stove, a minute seems like an hour. That’s relativity. (Ketika Anda duduk berduaan dengan gadis cantik, waktu sejam akan terasa semenit, tetapi bila Anda duduk di atas kompor panas maka semenit akan terasa sejam lamanya. Itulah relativitas).”

Saya ingin membatasi dulu antara bidang ilmu fisika dengan kebudayaan. Dengan derajat “kepastian” dalam dunia ilmu pasti (namanya saja ilmu pasti), toh sebuah teori ternyata bukanlah titik akhir kebenaran. Dengan tidak adanya kemutlakan terhadap sesuatu maka aliran relativisme mendapatkan anginnya. Ini sudah menjadi hukum pasti dalam ilmu pengetahuan, yaitu bahwa tidak ada sesuatu ilmu pun yang dapat memberi kepastian dalam konteks ruang dan waktu.

Namun, kegelisahan akan relativisme yang dipayungi dengan universalisme kemudian menghentak kuat di dunia kebudayaan Indonesia akhir-akhir ini. Yang paling gres tentu saja polemik antara Taufik Ismail dan Hudan Hidayat soal Gerakan Syahwat Merdeka, SMS (Sastra Madzhab Selangkangan) dan FAK (Fiksi Alat Kelamin). Goenawan Moehammad sendiri tidak setuju ini dikatakan polemik karena titik masalah yang disebutnya “tidak bermutu”. Masih terselip di ingatan, sejarah dalam polemik kebudayaan Indonesia misalnya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dengan Timur versus Barat dan kemudian ideologi Lekra versus Manifesto Kebudayaan (manikebu).

Walau begitu, benarkah apa yang dikumandangkan oleh Taufik Ismail permasalahan yang “tidak bermutu”? Tentu ini bukan soal kekaliberan Taufik dan kekencuran Hudan. Persoalan moral bangsa yang telah jatuh dan tak bangkit-bangkit dari titik nadir, sudah begitu mengerikan. Masalahnya bukan hanya pada “negara” tapi merunut pada kategori yang lebih jauh yaitu “bangsa”.Bukan tua versus muda

Taufik memang sedang meniupkan serulingnya. Ini seperti Amien Rais ketika mengakui menerima dana Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk keperluan Pemilihan Presiden 2004, yang dikatakan bak meniup seruling ke lubang ular dan kemudian ular itu keluar dari lubangnya dan berdiri tegak. Seperti itu pula yang sedang dilakukan Taufik.

Hudan Hidayat, yang tak mengakui berasal dari Komunitas Utan Kayu pimpinan Goenawan Muhammad, pun memberikan komentarnya pertama kali. Seekor ular keluar telah dari sarangnya. Ia bukan salah satunya.

Jaringan Islam Liberal, sebuah organisasi pemikiran Islam liberal pun memberikan dukungannya kepada Taufik. Permainan makin asyik ketika Ode Kampung yang digagas oleh Saut Situmorang mengompori perkelahian ini dengan tema imperialisme kebudayaan. Ia menyitir soal banyaknya para budayawan, sastrawan dan seniman yang mengemis dan menjadi penampung dari bantuan asing.

Namun berhargakah perkelahian ini kepada masyarakat Indonesia?

Pidato kebudayaan Taufik memang begitu gamblang mengungkap permasalahan moral bangsa yang sedang terpuruk. Sastra Mazhab Selangkangan (SMS) hanyalah secuil di antara pemain yang harus turut bertanggung jawab. Persoalan yang tidak diungkap Taufik justru lebih besar dari itu, yaitu pembohongan universalisme dan relativisme.

Ketiadaan hukum mutlak membuat segalanya bersifat relatif. Penyelewengan makna rahmatan lil alamin dalam Islam, jelas digambarkan oleh universalisme. Agama dianggap sebagai dogma dan doktrin kaku yang harus disesuaikan dengan perkembangan dan dinamika lokalitas. Ceritanya, Islam di jazirah Arabia tidaklah bisa diterapkan di belahan bumi yang mempunyai keragaman budaya dan suku bangsa seperti di Indonesia. Sungguh, analogi universalisme dan relativisme yang begitu memikat hati ini, bak kalajengking yang menyimpan bisa di ekornya.

Di sana, tidak ada kata “definisi” yang berarti batasan itu. Misalnya saja, universalisme memberikan kebudayaan lokal untuk secara mandiri memberikan definisinya tentang “telanjang”. Benarkah orang di Papua sedang melakukan pornoaksi ketika mereka hanya memakai koteka di jalanan? Dengan logika ini, maka kaum liberalis dan relatifis beranggapan bahwa tidaklah tepat bila RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi di terapkan di Indonesia. Mereka mengatakan, suku-suku bangsa kebudayaan Indonesia memiliki sendiri definisinya mengenai pornografi, termasuk Indonesia sebagai sebuah bangsa, dan juga perangkat kebudayaan serta hukum untuk menjaga moral bangsa.

Gelinya, paham universalisme itu bukanlah milik orang Indonesia, tapi diimpor secara langsung tanpa filter (dan tak gratis pula) dari negara pengekspornya, yaitu Eropa dan Amerika. Di sini, persoalannya bukan terletak pada dikotomi yang dulu sempat diungkapkan oleh STA antara Barat dan Timur. Tapi ketika ada jurang perbedaan yang jauh antara Barat dan Timur, maka hal itu benar adanya. Ketika Indonesia menjadi konsumen dan asing menjadi produsen, maka Indonesia sebagai sebuah bangsa akan terjajah sampai kapanpun.

Persoalannya bukanlah antara kaum tua dan kaum muda. Tidaklah tepat mengatakan Taufik sebagai kaum tua dan Hudan sebagai orang muda. Masalahnya bukanlah antara eksklusifitas Timur dan inklusifitas Barat. Ini bukanlah sebuah wacana yang didiskusikan dalam teori-teori ilmiah dan kajian-kajian filsafat seperti yang selalu didengung-dengungkan aktivis demokrasi dan HAM.

Bagaimana mungkin terjadi sebuah diskusi mengenai kemiskinan bila yang menjadi pembicara adalah orang-orang kenyang dan digaji dengan dolar. Bagaimana mungkin terjadi dialog soal demokrasi bila yang menjadi narasumber adalah para penindas dan negara (dan bangsa) yang memiliki jejak sebagai penjajah dan audiensnya adalah orang yang sedang terjajah?

Bukankah sudah bisa ditelisik, siapakah yang hanya sedang berwacana dan siapa pula yang memang sedang berdakwah di kampung-kampung, melakukan pengajian di surau, mushala dan mesjid. Dan kepada mereka yang terakhir ini, tak sedikitpun mereka mengeluh walau mereka hanya digaji Rp 75 ribu – Rp 150 ribu perbulan.

Ini adalah sebuah peperangan dan penjajahan. Tiadanya hukum mutlak menjadikan agama seperti barang murahan dan bisa dibuang kapan saja. Agama universal bukanlan Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan seterusnya. Agama-agama konvensional ini hendak diletakkan dalam laci sejarah. Penggantinya nanti adalah moralitas baru, seperti yang pernah diungkap Nietszhe dan Satre. Sebuah moral yang serba relatif, dalam arti bisa diterapkan di suatu daerah tapi belum tentu bisa diterapkan di daerah lain.

Dengan moralitas ini, maka nantinya ada suatu daerah yang menghalalkan seks bebas dan narkoba berdasarkan kesepakatan dan konsensus warganya. Bila ada warga yang tak setuju maka secara sopan akan disarankan pindah ke daerah lain yang mengharamkannya.

Sebuah bom atom kebudayaan sedang diciptakan di Indonesia. Tentu ini bukan salah Einstein. (*)

***

foto: http://www.sanqld.com/pic-sanqld-funny170.jpg, http://images.allposters.com/images/2/posters/po7029.jpg 

2 thoughts on “Taufik Versus Hudan, Bukan Tua Versus Muda

  1. sudah lama saya mengamati sastra/budaya/ide di dunia maya. saya mencermati tulisan ini, dan lepas dari opini dari tulisan ini, saya kira sangat bagus dunia maya menjadi sebuah tempat antara lain mengeksplorasi lalu lintas ide yang berselang-seling di kehidupan kebudayaan kita.

    tulisan ini saya akan pergunakan sesuai dengan situasi dan kebutuhan saya ya.

    salam hormat dari saya.

    hudan hidayat

    terimakasih telah singgah, memberi komen atau apa pun yang akan Anda lakukan terhadap tulisan ini. Saya tersanjung. Salam hormat juga dari saya🙂

    Like

  2. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s