Politik, Jujur dan Keberanian


Postingan saya Sabtu (15/12) kemarin penuh dengan cerita politik. Tidak tahu juga apa yang mendasarinya. Tapi, sepanjang hari memang saya berjumpa dengan para politisi, mulai dari yang anak bawang hingga yang preman berjubah tokoh agama.

Merekam kata-kata mereka, sungguh seperti menulis di atas air. Yang saya maksudkan adalah omongan dari politisi sungguh susah betul dipertahankan kebenarannya, kredibilitas dan apalagi kejujurannya. Tampaknya, dusta dalam politik merupakan hukum pertama yang wajib dipelajari, diaplikasikan dan kemudian diturunkan kepada para onderbouw.

Postingan saya sebelumnya sebenarnya sudah menceritakan soal ini, yaitu artikel Dr Haedar Nashir yang saya ambil dari situs resmi Muhammadiyah. Justru gelar Rasulullah Muhammad yang pertama kali bukanlah pada kecerdasan, keturunan, harta, ataupun pada jaringan politiknya. Julukan awal beliau adalah Al-Amin atau yang dapat dipercaya. Beliau sepanjang hidupnya tidak pernah berbohong, memanipulasi, merekayasa ataupun yang sejenisnya. Kejujuran bagi Rasulullah adalah nafas, darah sekaligus nyawanya.

Seorang pemimpin diikuti berdasarkan kebijakannya. Kebijakan dilemparkan dari mulut, sikap dan perilakunya. Urgensinya tampak ketika seluruh bawahan, rekan, lawan dan masyarakat luas melihat pada hal-hal itu. Pemimpin dijadikan panutan sekaligus harapan untuk perubahan nasib di masa depan. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Begitulah kata pepatah kita.

Namun, kejujuran membutuhkan keberanian. Berani untuk diejek, dilecehkan, dihina, dipinggirkan, diisolasi dan dihancurkan eksistensi dan identitasnya. Keberanian itu belumlah muncul hingga saat ini. Apalagi kejujurannya. (*)

2 thoughts on “Politik, Jujur dan Keberanian

  1. Setuju!!!
    ada filosofi yang unik yang sependapat dengan artikel bang Nirwan
    Suatu ketika saya pernah dianggap sok alim, sok suci dan sok…sok yang lain lah…
    alhamdulillah…untung aja ada ide untuk bersikap mengahadapi opini2 tersebut.
    saya jawab aja “semoga dengan sikap saya yang kamu anggap sok alim ini, semakin mendorong saya untuk mendekat sama Allah SWT” terima kasih ya…
    Jujur, merupakan komitmen Spiritual….nah, disinilah letak point penting kejujuran…
    lha wong dengan Tuhannya aja bohong apa lagi sama orang lain!
    Yo wis, semoga nanti kalau kita menjadi soerang pemimpin (minimal Pemimpin rumah tangga) bisa jadi jujur dan bijaksana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s