Gramedia


Seorang anak kecil cekikikan sendiri. Bajunya putih, celananya pendek berwarna merah. Di tangannya ada buku komik, Detective Conan. Komik itu sedianya bukan untuk anak di bawah umur. Alasannya sederhana saja. Komik itu menekankan analisis daripada visual semata. Orang diharapkan berpikir selain menikmati suguhan gambar kartun. Tapi, anak kecil itu tetap tersenyum. Ia menikmati bacaannya.

Di tempat lain, seorang ibu muda terlihat sedang memilih dan memilah buku. Perutnya buncit. Kemungkinan besar ia hamil, ya mungkin umur kandungannya belumlah terlalu tua. Ia berdiri di koridor novel. Kita perkirakan saja, ia sedang menambah referensi untuk mengisi hari-harinya menunggu si jabang bayi hadir di muka bumi.

Anak kecil dan kaum ibu merupakan sebagian dari potret masyarakat kita yang masih perlu akan buku. Tentu, buku sekadar mencari dan menambah pengetahuan baru. Tapi ia jelas akan menambah perbendaharaan data dan informasi di memori-memori syaraf kita yang sungguh luas itu. Kita tidak pernah tahu batasan isi kepala kita, seperti kita juga tidak pernah tahu seberapa luas jiwa kita.

Kesampingkanlah dulu motif-motif di balik penerbitan buku, seperti ideologi, ekonomi, kepentingan dan seterusnya. Biarkanlah buku-buku itu berserak di hadapan kita dan kita mulai belajar untuk memilih mana yang terbaik untuk diri manusia sendiri. Toh, manusia mempunyai kemampuan yang datang dari dirinya sendiri untuk menyeleksi apa yang penting bagi dirinya.

Lihatlah anak bayi yang mempunyai imunitas bawaan dari ibunya. Bayi akan melahap apapun yang diberikan ke mulutnya. Bila ia tak suka, ia pasti menolak dan kita bisa melihatnya dari reaksinya, seperti menangis, sakit ataupun ia menutup mulutnya. Bila terlalu besar makanan itu, maka mulutnya yang kecil menjadi penyaringnya. Bila tak enak dirasanya, ia mungkin menangis atau membuangnya.

Proses seleksi yang terutama memang pada ibunya. Baru kemudian pada dirinya sendiri. Dua pengendali utama ini, bila kita perbesar konotasinya akan merujuk pada lingkungan yang membesarkannya. Sistem adalah satu di antaranya, di samping kebudayaan, juga ilmu pengetahuan.

Kendali diri yang utama dikodrati oleh penciptanya. Dia mengkreasi ciptaan sesuai dengan kebutuhan ciptaannya, bukan sesuai dengan keinginannya. Di situlah ia menunjukkan kasih sayangnya dengan jalan memelihara, menyiraminya dengan perlindungan dan kemudian membawanya kembali ke pangkuannya.

Dia tidak seperti manusia, yang menciptakan komputer kemudian meng-upgradenya dan lantas membuang yang not up to date ke keranjang sampah. Manusia tidak pernah memelihara ciptaannya. Ia hanya mengembangkan, mempertinggi dan mengesetnya sesuai kebutuhannya sendiri. Bukan untuk ciptaannya.

Jauh betul perbedaan manusia dengan Tuhan.

One thought on “Gramedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s