Seni Tradisi (Bakal)Tetap Pinggiran


Seni tradisi tidak juga mendapat tempat. Ada reduksi dari segmentasi primordial yang menjadi fundamen. Pemerintah belum juga turun tangan atau malah memang tak punya kebijakan?

* * *

Tuah Sakato, sebuah grup seni tradisi minangkabau. Didirikan tahun 1996, Tuah Sakato merupakan pengembangan dari organisasi IKSA yang berdiri sekitar tahun 1960-an. Dengan anggota lebih dari 60-orang order pertunjukan seni tradisi cukup tinggi. Tapi itu, cerita 10 tahun lampau. Menurut Azis Mandri, salah seorang pemain di Tuah Sakato, IKSA kemudian dipecah menjadi dua, supaya lebih terorganisir. Artinya, orderan yang didapat bisa lebih tinggi. Tapi, order tinggi untuk pertunjukan seni tradisi minangkabau itu hanya cerita 10 tahun lampau. Kini, order makin menipis. Sekitar dua tahun lalu, Tuah Sakato (dan IKSA) masih dapat order 7 – 8 pertunjukan dalam sebulan. Kini, 4 pertunjukan sebulan atau seminggu sekali pun sudah susah didapat.

Silek TuoAzis punya alasan soal itu. Katanya, seni tradisi melekat pada fundamen dari tradisi tersebut, yaitu ikatan primordial. Itu artinya, segmentasi dari seni tradisi yang mla-mula dan terutama adalah kalangan internal dari suku bangsa tertentu. Dengan demikian, ketika produk seni tradisi dijual ke suku bangsa lain, kurang laku. “Lah, orang Jawa kan tidak mungkin mengundang seni pertunjukan minang,” kata Azis.

Alasan yang masuk akal. Terlebih bila dilihat dari struktur masyarakat di Medan, maka suku-suku bangsa akan terlihat tidak ada yang mendominasi. Di Kota Medan, walau ada yang mengatakan daerah ini merupakan tanah Melayu ataupun tanah Batak, maka justru suku bangsa Jawa yang menjadi “meyoritas” dengan mencapai 30% dari komposisi penduduk. Sementara persentase komposisi suku bangsa lain pun tidak jauh-jauh dari angka itu. Tidak ada dominasi dari suku bangsa memang membuat Kota Medan menjadi kota yang heterogen.

Namun, ikatan primordial inter suku bangsa pun tidak bisa terlalu diharapkan untuk memperluas segmentasi pasar seni tradisi. Pasalnya, seni tradisi yang kebanyakan tampil dalam ritual kebudayaan seperti perkawinan, kematian, dan seterusnya, alias “panggung kondangan”, dipastikan para undangan juga bukan dimonopoli dari suku bangsa yang melakukan hajatan. “Orang Minang kawin, kan belum tentu para undangannya orang Minang semua,” kata Azis lagi.

Menurut Azis, beragamnya orang yang datang ke upacara ritual seperti kawinan itu, membuat sang tuan rumah lebih memilih jenis pertunjukan yang lebih heterogen, umum, dan “nasional”, misalnya keybor atau dangdutan. “Mereka gak mau tamunya, ya kita bilang aja, pening,” tandas Azis lagi.

Segmentasi yang semakin sempit itu membuat seni tradisi yang mengandalkan eksistensinya dari pertunjukan langsung di hadapan masyarakat, dan bukannya di gedung-gedung pertunjukan, semakin terancam. Tuah Sakato yang kini anggotanya mencapai 25 orang, pun terpaksa menghimpit-himpitkan pemasukan dari pertunjukan hanya untuk perawatan alat. Bayangkan saja, sekali pertunjukan membawa 25 orang pemain; 7 orang pemain tambur, 1 orang serunai, 3 pemain talempong, 1 pemain tansa, 7 pesilat gelombang, dan 6-7 penari tari persembahan. Bila diukur dari honorarium tiap seniman sekali pertunjukan yang dibagi rata dari tarif Rp 1,5 juta (dalam kota) dan Rp 3 Juta (luar kota), jelas-jelas “tidak manusiawi”. Akhirnya, memang, seniman seni tradisi tidak bisa hidup dari berkesenian. Azis sendiri sekarang harus melakoni profesi sebagai penjahit pakaian di sekitar kediamannya di Mabar, Belawan.

Nasib, grup seni tradisi memang memprihatinkan, walaupun biasanya dipayungi oleh organisasi kemasyarakatan primordial. Misalnya Tuah Sakato yang punya sandaran di organisasi Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) Sumut. Identitas kesukuan yang salah satunya dipertahankan melalu ranah seni dan budaya memang menjadi trade mark dari organisasi suku. Grup seni tradisi Minang di Sumut sendiri saat ini mencapai 40 lebih. Tapi itu pun, kata Azis, nasibnya kembang-kempis. “Beberapa waktu lalu BM3 hanya bisa mengumpulkan 20-an grup saja dari seluruh Sumut,” kata Azis lagi.

Wadah Komunikasi
Untuk hidup, seni tradisi perlu media. Misalnya televisi. Di Medan, ada dua televisi, TVRI Medan dan Deli TV. Tapi, di dua wadah media audiovisual ini pun, agaknya harapan belum bisa dimunculkan. Deli TV hingga kini belum keliatan program acara untuk seni tradisional. Sementara TVRI Medan yang punya sejarah dan tradisi kuat untuk menampilkan seni tradisional, pun akhirnya kelimpungan soal dana. Ya, sinetron atau sinema elektronik merupakan bagian dari dunia seni. Itu siapa pun tahu dan perannya pun tak usahlah dibahas. Nyak Ben Z Asmara, Kepala Seksi Produksi TVRI Medan beberapa waktu lalu pernah mengatakan, produksi acara mandiri oleh TVRI Medan terbentur soal dana.

TVRI Medan harus menerapkan skala prioritas program yang harus dijalankan. Misalnya, program pendidikan, agama, kesehatan, dokumenter, dan yang sejenis dengan program pembangunan, yang kini memang masih berjalan. Masih ada acara seperti Lintas Nusantara yang menampilkan kesenian tradisional. Tapi, menurut beberapa penilaian, acara ini pun agak “diskriminatif” dengan frekuensi budaya suku bangsa tertentu lebih jamak dari suku bangsa lain.

Di sisi lain, solusi lain untuk membawa seni tradisi ke panggung masyarakat heterogen bukan tak ada. Misalnya pada improvisasi dan kolaborasi seni tradisional dengan seni modern. Memang, agak berat karena seni tradisi yang “murni” biasanya mengiringi ritual seni yang bermakna religiusitas. Karena itu, ruang untuk berimprovisasi pun hanya terletak pada seni tradisi pertunjukan dan bukannya seni tradisi murni.

Namun, memang seni tradisi yang murni maupun seni tradisi pertunjukan dua-duanya nasibnya idem ditto. Seni tradisional saat ini semakin sempit peredaran dan perkembangannya. Kalaupun ada, dan mau diteliti dan mendapatkan jumlah yang pasti secara kuantitatif peredaran dan perkembangan, maka tidak ada jalan lain kecuali menelusuri satu persatu daerah-daerah dan suku bangsa itu. Syarat lain, mesti dijumpai ketika ada even tertentu. Dan, yang asli ini pun mengalami banyak “diskriminasi”. Misalnya, hitung saja frekuensi penampilan seni tradisi suatu suku bangsa dengan suku bangsa yang lain pada momen-momen pertukaran budaya atau gelar budaya di even internasional.

Hanya saja, seni tradisi pertunjukan itu pun terbatas hanya menambah instrumen modern tanpa pendalaman yang lebih jauh. Paling gampang, terlihat ketika kolaborasi terbatas penambahan unsur keybor ataupun lagu dangdut. Lainnya belum ada.

Erizon ST, SSn, asisten Pilago, sebuah grup seni tradisi minang yang lain, mengatakan, harus ada sinergi dengan seni kontemporer. “Tradisi adalah akarnya dan kalau nanti bisa tumbuh hybrid (cangkokan,red), mengapa tidak?” katanya. Menurutnya, dinamisasi dari seni tradisional hanya bisa dilakukan bila para pengembang menguasai aturan dari seni tradisional itu. Erizon kemudian mencontohkan kepada budaya wayang yang sudah mengalami perkembangan yang dinamis sedemikian rupa saat ini.

Karena itu, seni tradisional butuh prasarana lain. “Semua harus bermitra,” katanya. Kemitraan seni tradisi dengan organisasi kesukuan memang menjadi pola utama yang terlihat saat ini. namun, kemitraan yang paling dinantikan, adalah dari pemerintah.

Pengharapan dari pemerintah memang wajar. Soalnya, pemerintah sendiri memang menyediakan institusi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengurusi “tetek bengek” kesenian di Indonesia. Tangan pemerintah inilah yang sampai saat ini belum membekas di seluruh grup seni tradisi. “Kami mengharapkan fasilitas dan tentu saja uang,” kata Azis terus terang. Menurutnya, panggung-panggung yang disediakan pemerintah tidak akan berisi bila grup-grup seni tradisi itu mati. Bila pemerintah tidak menyediakan fasilitas dalam bentuk kebijakan konkret, tentu saja panggung-panggung swasta bagaikan “negeri di atas awan”.

Walaupun begitu, seniman tradisi agaknya tak patah arang. Optimisme tetap dihembuskan. “Mau diperhatikan atau tidak sama pemerintah, ya seni tetap hidup. Ini kan jiwa,” kata Azis lagi.

Benar, seni tradisi memang dihidupkan oleh masyarakat, bukan pemerintah. Sehingga, kalaupun ada grup seni tradisi yang berhasil manggung di pentas nasional ataupun internasional, pemerintah pun tak berhak mengklaim “jasa”-nya.

——-

sumber foto: http://www.geocities.com/silektuo/images/Silek_1.jpg 

One thought on “Seni Tradisi (Bakal)Tetap Pinggiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s