O…O…Presiden Kok Sempat Launching Album?


Soesilo Bambang Yudhoyono, pria yang sekarang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, launching album Rinduku Padamu. Para hulubalang kemudian bicara soal industri kreatif dan parahnya pembajakan karya intelektual. Politik memang lazim membajak ranah seni dan budaya?

* * *

Walau dusunku sunyi, kasih sayang bersemi
Terus kurajut, tanpa henti
Dalam hati bermohon rahmatilah negeriku,
hidup rukun, damai abadi.

(lagu Hening album Rinduku Padamu
Soesilo Bambang Yudhoyono)

Soal bernyanyi, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden Republik Indonesia, bukan hal baru. SBY sudah sering melantunkan lagu Pelangi di Matamu miliknya grup rock Jamrud. Hampir di tiap panggung, lagu yang bernada pelan dan tak menghentak itu mampu memancing koor pendengar ketika memasuki bagian refrein. Citra SBY yang semula kaku –mungkin akibat sosoknya sebagai purnawirawan militer dan tindak-tanduk gaya bicaranya di podium yang kebanyakan memperlihatkan mimik serius, tegang dan mimik yang ketat- menjadi cair.

Dan kini, hampir tiga tahun pemerintahannya, ia menggebrak dengan album “perdana”-nya, Rinduku Padamu. Seluruh lagu dan lirik ditulis oleh SBY. Ada sepuluh lagu di album itu, yaitu Kasih Aku pun Rindu, Dendang di Malam Purnama, Mengarungi Keberkahan Tuhan, Hening, Kuasa Tuhan, Selamat Berjuang, Mentari Bersinar, Kawan dan Rinduku Padamu (dibuat dalam dua versi).

Seperti dilansir beberapa media, SBY mengaku lagu-lagu itu sudah mulai dirancangnya sejak pertengahan 2006 lalu. Inspirasinya lebih bersifat spontan. Tema-tema lagu SBY beragam, mulai dari religius, nasionalisme, persahabatan sampai tema lagu yang sedang ngetop di kalangan anak muda sekarang (dan dulu), cinta.

Misalnya lagu Kawan. Mari simak dulu sebait liriknya, “Ada suka ada duka kawan/ hidup ini akan berputar kawan/ kita mesti tegar menghadapi/ untuk masa depan kita nanti.”

SBY menerangkan, lagu itu dibuatnya di atas pesawat yang menerbangkannya dari Merauke ke Jakarta. Dengan memakai tema perkawanan, SBY mengarahkan lagunya ini pada optimisme terhadap masa depan Indonesia. Pemakaian kata “kita” sebagai asosiasi dari dirinya dan “kawan-kawan”-nya, meneguhkan soal nasionalisme. Faktor locus (tempat) dan momen ketika ia menggubah lagu itu, memperkuat soal nasionalisme itu.

Di tangan para seniman “asli”, yang dikomandoi oleh Ketua Pappri (Persatuan Artis Pencipta Lagu-Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia), Dharma Oratmangun, lagu itu kemudian berubah drastis, lebih punya nilai seni dan lebih punya daya jual. Beberapa pengamat musik mulai berkomentar mulai dari soal estetika, kombinasi musik tradisional-modern, musik anak muda dan cita rasa orang tua, dan seterusnya.

Sewaktu peluncuran albumnya, SBY mengungkapkan, masing-masing lagu rata-rata diselesaikan dalam 2,5 jam. Untuk menyempurnakan perlu waktu sampai 3-4 hari. Dia pun membantah kalau niatan mengalbumkan lagu-lagu tersebut dari dirinya. ‘’Tidak ada niatan sama sekali untuk mengalbumkan atau bahkan meluncurkan secara formal,’’ kata SBY saat memberi sambutan.

Namun, bukankah tak indah rasanya bila kesan launching itu terlalu spontan? Peluncuran album pun kemudian disertai penyerahan sertifikat hak cipta lagu-lagu SBY pada Direktorat Jenderal Hak Atas Karya Intelektual (Dirjen HAKI) Cq Direktorat Hak Cipta Departemen Hukum dan HAM RI.

Sebagai perangkai, maka kisah lama dalam dunia seni musik (dan ranah seni yang lain), yaitu pembajakan, pun diungkapkan secara luas. Apalagi Indonesia memang masuk 10 besar negara-negara pembajak hak cipta intelektual dunia. IFPI (International Fedration of the Phonographic Industry), sebuah federasi industri rekaman dunia, menyebutkan, tingkat pembajakan rekaman fisikal (CD, kaset, DVD, VCD) telah mencapai level akut, 88%. Ini berarti hanya 12% saja produk rekaman legal yang beredar di seluruh Indonesia. Diperkirakan, sepanjang tahun 2005 jumlah rekaman bajakan yang beredar di Indonesia telah mencapai lebih dari 170 juta keping dan negara telah dirugikan sedikitnya US$ 70 juta atau Rp 630 milyar.

Data Asosiasi Rekaman Indonesia (ARI), menyebutkan jumlah lebih tinggi. Kerugian dari pembajakan lagu dan musik di Indonesia hingga tahun 2007 ini mencapai US$ 124 juta atau Rp 1.2 triliun lebih! Status Indonesia saat ini adalah negara watch list pembajakan, agak turun satu tingkat dari tahun lalu yaitu priority watch list.

Nah, hal itu diungkapkan oleh salah satu menteri SBY, Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan RI, sebelum dan kemudian dikuatkan pasca peluncuran album. Apalagi baru-baru ini, Mari juga bicara soal potensi tinggi dari industri kreatif di Indonesia, yang salah satunya adalah industri musik. Dino Patti Jalal, Juru Bicara Kepresiden RI, menyebutnya proyek program nasional Sejuk Kreatif.

Begitulah.

Politik dan kekuasaan
Soal politik dan kekuasaan memang tak mungkin dilepaskan dari sebuah lagu yang ditelurkan oleh seorang Presiden. Sebagai pemimpin lembaga negara dan pemerintahan yang politis, maka hampir 24 jam waktunya selalu terlibat (dan dilibatkan) pada hal-hal politik. Dan SBY sendiri memang tak bisa melepaskan diri dari hal tersebut.

Salah satu indikasi yang paling jelas, ya, pada saat launching album, yaitu pengaitan acara tersebut dengan buruknya pembajakan hak intelektual dan industri kreatif. Karya cipta SBY pun kemudian tak lepas dari soal “berbangsa dan bernegara”. Lha wong, penciptaannya saja, sebagian, pada saat ia sedang menjalani tugas-tugas kenegaraan, kok.

Karena keterlibatan mutlak ini, maka segala tindak-tanduknya pun jadi perhatian. Pujian memang meluncur kepada SBY soal perhatiannya pada dunia seni dan budaya serta industrinya.

Ini hal biasa, tentu saja. Bahkan di tingkat pemerintahan yang paling kecil, bila seorang Kepala Lingkungan didaulat bernyanyi dan kemudian menunjukkan kebolehannya, masyarakat awam akan riuh-rendah bertepuk tangan. Kalaupun suaranya sumbang, biasanya itu bisa dimaklumi.

SBY

Sejarah Indonesia bukan tak mengenal penguasa yang mampu menunjukkan derajat berkesenian yang tinggi. Raja-raja Jawa seperti Paku Buwana IV yang pernah menulis syair Serat Wulangreh dan Mangkunegara IV menulis Serat Wedhatama yang hingga kini masih sering dibawakan dalam pewayangan. Namun, buru-buru menyamakan SBY dengan kedua raja ini pun tak bijak pula.

Lagi pula, SBY tak sendirian dalam hal ini. Mantan Gubernur Jawa Timur, Basofi Sudirman, punya lagu yang meledak di pasaran, Tidak Semua Laki-laki. Jenderal (purn) TNI Wiranto punya album lagu-lagu perjuangan dan Amien Rais pernah berduet dengan Waljinah dalam album Campur Sari Reformasi. Itu di dunia musik.

Di seni peran, jangan lupakan fenomena Syaifullah Yusuf (mantan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal) dan Yusril Ihza Mahendra (mantan Menteri Sekretaris Negara) dalam film Laksamana Cheng Ho. Wapres Yusuf Kalla sendiri pernah hadir dalam syuting Republik Mimpi, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie pernah tampil dalam Ketoprak Humor (memerankan Ki Buyut Bedander)  dan, nah, SBY pun pernah tampil dalam video klip grup Samson berjudul For You.
Umumnya, alasan yang sahih menyebutkan, perhatian yang besar dari politik dan kekuasaan terhadap seni dan budaya, justru pada kemampuannya untuk mendongkrak popularitas yang bersangkutan. Bahasa seni dan budaya merupakan bahasa yang paling dapat diterima oleh seluruh kalangan. Universalitas ini mengalahkan sekat-sekat yang biasanya sangat umum didapatkan di dunia politik. Walaupun dalam dunia seni dan budaya sendiri dikenal istilah segmentasi (pemijahan kelompok penikmat).

Nah, bila agenda launching album sampai menyerempet soal popularitas SBY yang sudah menurun tajam akibat kinerja pemerintahan, kondisi rakyat dan terutama persaingannya dengan wakilnya Yusuf Kalla (jangan lupa, Yusuf Kalla sudah menyalip popularitas politisi lain termasuk SBY dengan safari syawalnya), itu sudah ranah-ranah politik.

Tapi bila kemudian dikatakan seniman dikatakan sedang “dibajak” dengan munculnya seniman baru yang berasal dari pejabat negara, itu lain hal. Itu karena perdebatan soal nilai dan kadar seni jadi lebih asyik diikuti. Itu supaya, kalangan politisi dan pejabat negara tidak sembarangan memakai instrumen kebudayaan hanya demi “secuil” hasrat dan motif-motif politik. Semua orang toh punya hak untuk berkesenian. Tapi tentu saja nilai seni dan budaya terlalu besar untuk dipertaruhkan. Apalagi kalau sampai meninggalkan tugas-tugas untuk rakyat.

sumber foto: http://lamida.files.wordpress.com/2007/05/sby.jpg

3 thoughts on “O…O…Presiden Kok Sempat Launching Album?

  1. Amang, mansai loja do au mamingkiri amnta Susilo Bambang Yudhoyono on. Disanga-sangahon do pe marende-ende. Dang hinata nian, alai holan popularitas do di bagas pingkiranna. Mansai porlu di ibana pamanggaron sian angka deba, nang pe so mangan angka rakyatna. Holan harajaon padua haklihon nama dipingkiri.

    Alai on ma muse na mambahen au marpingkir. Sai marhua do amanta Susilo Bambang Yudhoyono ro tu Medan on? Dang dapot ahu amang alasanna. HUROHA NA GABE MESIN CUCI POLITIK NI ANGKA PAR MEDAN ON NAMA IBANA. I do hu hilala lapatanna.

    Horas ma. Horas.

    Like

  2. Saya faham bahasa Batak yang digunakan oleh Manosor Siallagan dari Jakarta Selatan, dan saya sama dengan dia:

    (1) mempertanyakan organisasi berfikir SBY. Dalam keadaan begini lebih mementingkan persoalan popularitas pribadi dan keinginan berkuasa 5 tahun lagi ke depan. Negarawan konyol yang berfikir seperti itu.

    (2) Mesin cuci politik. Abdillah itu kan orang jahat yang sedang mencari legitimasi Presiden agar tak diganggu oleh KPK. Lihat saja. Antasari tak akan mengganggunya lagi setelah sekian kali memperbudak SBY jadi mesin cuci politik dia. Bodohnya pula, SBY itu tak tahu bahwa Abdillah tak punya gigi dan kekuatan. Buktinya, 1,7 juta pemilih Kota Medan dibuangnya lebih dari separoh karena tak yakin akan memilih dia. Hanya 63 % dari 781.000 lah yang dia dapatkan dalam pilkada tahun 2005 di Medan. Abdillah itu pedagang, jabatan presidenpun ternyata sukses didagangkan. (3) Si Rudolf Pardede kan juga orang bersalah yang dilindungi oleh dua presiden sekaligus, Megawati dan SBY. Ijazah tak ada tetapi bisa jadi Gubernur, meskipun banyak orang yang masuk penjara karena ijazah aspal di pemprovsu.

    (3) sekarang Abdillah dan Rudolf Pardede sama-sama berjuang untuk menjadi Gubernur. Wahai rakyat, pilihlah kedua orang jahat yang berhasil ini. Tak ada tanding buat mereka. Bisa dinyatakan bahwa pemilihan gubernur mendatang adalah permainan mereka berdua. Sekarang mulai siap-siap menerima kenyataan yang akan muncul: Bergubernurkan Abdillah atau bergubernurkan Rudolf.

    Like

  3. mauliate da…cobalah baca novel “ayat-ayat cinta” karya Habiburahman EL-Shirazi. Saya cukup terkejut ketika di satu halaman (sayang lupa halaman berapa), si pengarang “mencaci” presiden Indonesia. Dikatakan, Presiden Indonesia hanya memikirkan perut dan kursinya saja. Saya tak sangka ini bisa muncul di sebuah novel cinta dan dari pena seorang penulis yang “baik-baik”.

    Abdillah dan Rudolf. Untuk permainan politik, ini mengasyikkan. Tapi untuk wasilah dan social welfare, ini kiamat!😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s