RUMI YANG TAK BERHENTI MENARI


Kepada Nya, kita semua akan kembali

Aku mati sebagai mineral

dan menjelma sebagai tumbuhan,

aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
“KepadaNya, kita semua akan kembali”

* * *

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebuah lembaga Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) yang mengurusi soal pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan seluruh dunia, menetapkan tahun 2007 sebagai tahun Jalaluddin Rumi. Tahun ini, hari lahirnya jatuh di bulan Ramadhan.

======

Tak ada gegap gempita. Walau PBB tak menorehkan perhatiannya pada Rumi pun, kehidupan dunia Timur tak bisa lepas dari Rumi. Dalam Rumi, sama sekali tak dikenal Plato, Aristoteles, sampai John Locke, Hegel, Marx, Voltaire, Nietszhe, Sartre ataupun Newton, Einstein sampai Hawking. Hadiah Nobel, sebuah hadiah yang dengan lelah dan serius dikondisikan menjadi impian seluruh makhluk berpikir di atas muka bumi ini oleh dunia barat, menjadi remahan roti yang disergap burung-burung ketika melihat Rumi.Yang jelas, Rumi tak pernah melongokkan dirinya pada “barat”, renaissance, enlightment, revolusi industri, strukturalisme dan post modernisme apalah lagi hanya sekedar demokrasi dan produk-produk hak-hak asasi. Ia bukan anak zaman.Jalaluddin Rumi Ia bukan seperti Muhammad Iqbal yang pernah berguru ke Sorbonne, Perancis. Filosofi pemikiran Iqbal yang ditampilkan dengan gaya kepenyairannya, jelas bukan hal yang main-main. Pengaruhnya melalui salah satu karyanya yang paling terkenal yaitu “Reconstruction of Religious Thought in Islam” menjangkau seluruh peradaban Timur dan Barat, dua arus yang selalu dihadap-hadapkan. Ia membawa individu Islam menjadi orang-orang yang dinamis dan jauh dari takqlid (fanatisme total dan buta terhadap mazhab).

Dari sebuah kepala yang diameternya pun tak sampai 30 cm itu, lahirlah sebuah hal konkrit, negara Islam bernama Pakistan. Tak ada yang bisa membedakan, apakah Iqbal lebih seorang penyair ataukah seorang filosof. Namun yang pasti, lintas dan kedalaman pemikirannya telah tersusun dalam bait-bait indah dari syair yang ditulisnya. Dan oleh karena itu, keindahan versi Iqbal lebih dari sekedar roman picisan laiknya tertulis di puisi-puisi tanpa makna. “Maulana mengubah tanah menjadi madu…. Aku mabuk oleh anggurnya; aku hidup dari napasnya,” komentarnya soal Rumi.

Rumi juga tak sama dengan Ali Syariati, intelektual Iran yang juga pernah kuliah di Universitas Sorbonne, Perancis. Dari Syariati, seorang sarjana fakultas Sastra di Universitas Masyhad Iran, kemudian lahirlah Revolusi Islam di negeri Persia atau Iran sekarang. Ia dibenci oleh rezim syah karena pidato-pidatonya dan tulisan-tulisannya membuat orang bergerak dan hidup serta mampu membedakan yang benar dan sisi yang salah.

Dua orang ini, dua orang yang kredibilitas dan orisinalitas pemikirannya diakui oleh peradaban Barat, adalah dua orang di antara jutaan “murid-murid” Rumi. Bacalah karya-karyanya dan lihatlah betapa Rumi menjadi pijakan penting dari karya-karya dan pergerakan mereka.

Seni dalam kebudayaan Islam seperti dipraktekkan Rumi, tidaklah jatuh ke tempat paling nadir di dunia seperti yang dilakukan oleh marxisme dan komunisme dengan sekedar menjadi “alat perjuangan kelas”. Lihatlah bagaimana Rumi mulai bercengkrama dengan tarian sufinya yang kini dikenal sebagai The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar).

Mengapa Rumi menari? Mengapa dia tidak hanya bersyair, seperti yang dilakukan Faridudin Attar, Suhrawardi hingga Iqbal?

Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini wilayah Afganistan. Ia Putra Bahauddin Walad, ulama dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota Balkh tatkala ia berumur 12 tahun. Rumi kemudian tinggal di Aleppo, Damaskus, kemudian pindah ke Laranda, kota di Anatolia Tengah, atas permintaan Sultan Seljuk Alauddin Kaykobad. Di kota ini, ibu Jalaluddin, Mu’min Khatum, meninggal dunia. Lantas, keluarga ini pindah ke Konya, Turki, 100 Km dari Laranda.

Rumi semula merupakan ulama “konvensional”, dalam arti mengajar soal ilmu-ilmu keislaman tanpa sentuhan mistik. Setahun setelah kematian ayahnya, suatu pagi, madrasahnya kedatangan tamu, Burhannuddin Muhaqiq, yang ternyata murid kesayangan ayahnya. Ketika menyadari sang guru telah tiada, Muhaqiq mewariskan ilmunya, khususnya latihan tawasuf.

Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah berada di atas semua ulama di Konya. Ilmu yang dia timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki, Yunani dan Ibrani, membuat dia menjadi tempat bertanya. Gelar Maulana Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih. Tapi suatu waktu, di sebuah senja, sehabis pulang dari madrasah, seseorang yang tak dikenalnya, mencegat langkahnya dan menanyakan satu hal.

Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu bertanya, “Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah yang berdoa, ‘Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya’ atau seorang sufi Persia, Bayazid Bisthami yang berkata, ‘Subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya kekuasaanku’.

Riwayat lain menyebutkan pertanyaan yang berbeda yaitu, “Manakah yang lebih utama, riyadhah ataukah ilmu?” Mendengar pertanyaan itu, Rumi pun pingsan!

Pertanyaan mistikus itu dilontarkan oleh seorang bernama Syamsuddin Tabriz. Di bawah pengaruh Syams, ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah, tanpa batas, dan mulai menyukai musik.

Tapi ini tak lama. Warga Konya membenci Syams karena membuat Rumi lupa akan mereka, Syams pun pergi dan suatu riwayat menyebutkan ketika Rumi memintanya kembali, warga Koya membunuhnya. Rumi merasa sangat kehilangan.

Suatu pagi, seorang pandai besi, Shalahuddin, membuat Jalaluddin mulai menari. Riwayat lain mengungkapkan, inspirasi itu didapatnya dari sahabatnya bernama Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad.

Bunyi dari pukulan besi itu membuat Rumi ekstase dan “tanpa sadar” melantunkan puisi-puisi mistisnya. Isinya bukanlah rapalan ataulah mantera para dukun, melainkan ketakjuban pada pengalaman akan terbukanya tabir.

Era menari nan puitis pun dimulai dan tak berakhir walau Rumi kemudian menghadap cinta sejatinya, Allah SWT pada 5 Jumadil Akhir 672 H (17 Desember 1273) dalam usia 68 tahun. Karya-karyanya bisa ditemui di antaranya dalam Divan-i Syams-i Tabriz, Maqalat-i Syams Tabriz , Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; himpunan ceramahnya tentang tasawuf), Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya) dan tentu saja karya fenomenalnya al-Matsnawi al-Maknawi yang terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair.

The Whirling Dervishes
Tarian Sama yang terdapat dalam The Whirling Dervishes dianalogikan seperti shalat yang merupakan saat perbicaraan manusia dengan Tuhan. Maka dalam keadaan trance, para darwis juga berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama merupakan bagian salawat atas Nabi Muhammad SAW. Tarian Sakral Sama warisan Rumi kini berasal dari tariqah Mevlevi Haqqani atau Tariqah Mawlawiyah yang saat ini masih dilakukan di Lefke, Cyprus, Turki di bawah bimbingan Maulana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani.

Sama merupakan tiruan dari keteraturan alam raya yang diungkap melalui perputaran. Tarian ini, dalam bentuknya sekarang dimulai dengan seorang peniup suling yang memainkan Ney, seruling kayu. Para penari masuk mengenakan pakaian putih yang merupakan simbol kain kafan, dan jubah hitam besar sebagai symbol alam kubur dan topi panjang merah atau abu-abu yang menandakan batu nisan.

Akhirnya seorang syaikh masuk paling akhir dan menghormat para darwis lainnya. Mereka kemudian balas menghormati. Ketika syaikh duduk di alas karpet merah menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua yang mengacu pada keindahan langit senja sewaktu Rumi wafat, syaikh mulai bersalawat untuk Rasulullah saw yang ditulis oleh Rumi disertai iringan musik, gendang, marawis dan seruling ney.

Ketika musik mulai bermain maka para darwis memulai dengan tiga putaran secara perlahan yang merupakan simbolisasi bagi tiga tahapan yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada putaran ketiga, syaikh kembali duduk dan para penari melepas jubah hitamnya dengan gerakan yang menggambarkan kuburan untuk mengalami “mati sebelum mati”, kelahiran kedua.

Ketika syaikh mengijinkan para penari menari, mereka mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari. Ketika tarian hamper usai maka syaikh berdiri dan alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan musik penutup dan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Pada akhir penampilan tarian ini, biasanya penonton diminta untuk tidak bertepuk tangan karena diyakini bahwa tarian ini merupakan ritual spiritual bukan sebuah pertunjukan seni.

Rumi memang tak pernah berhenti menari kerana dia tak pernah berhenti mencintai Allah.

2 thoughts on “RUMI YANG TAK BERHENTI MENARI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s