Kesaksian Kebudayaan


Mekkah, sebuah kota terkenal di jazirah Arabia, terkenal dengan penyair-penyairnya. Dulu, sebelum Muhammad diangkat sebagai rasul sekitar tahun 610 masehi, setiap tahunnya Ka’bah digantungi oleh syair-syair pilihan terbaik. Setiap kabilah dari semenanjung Arabia yang sedang berziarah ke Mekkah pun tak melewatkan pembacaan syair-syair itu. Tak mau kalah, setiap kabilah pun kemudian membawa serta penyair-penyairnya untuk diperdengarkan di depan Ka’bah.

Namun siapa pun tahu, zaman itu, zaman yang penuh penyair terbaik itu, mendapat julukan seram: zaman jahiliyah. Jahil berasal dari bahasa Arab artinya bodoh dan tidak tahu. Tapi kemudian di Indonesia, istilah jahil juga diperuntukkan bagi perbuatan mempermainkan orang.

Para ulama kemudian menyebutkan alasan mengapa zaman sebelum kerasulan Muhammad itu disebut zaman jahiliyah. Disebutkan, zaman itu disebut bodoh karena masyarakat waktu itu tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Azas-azas hukum dan moralitas dilanggar. Yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang kuat dan kaya maka dia yang menang. Homo homini lupus, setiap manusia memangsa manusia lainnya, menjadi karakter setiap orang di Mekkah waktu itu.

Tabiat ini kemudian menumbuhsuburkan feodalisme dan aristokrat. Para tuan tanah dan kaum bangsawan menjadi pembeda kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat. Setiap orang miskin selalu menjadi kaum yang ditindas dan tertindas. Memiliki budak menjadi suatu kebanggaan bagi kaum bangsawan dan hartawan. Bayi perempuan dibunuhi karena dianggap tidak produktif dan selalu konsumtif, tidak menghasilkan malah menghabiskan harta saja. Selain itu, anak perempuan jelas mematikan nasab keturunan, sesuatu yang haram bagi sebuah bangsa yang membuat laki-laki menjadi penguasa bagi perempuan. Perempuan hanya menjadi tempat perkembangbiakan manusia. Hanya perempuan-perempuan yang diperkirakan “laku” dijual di publik atau yang putri bangsawan berhak hidup.

Yang jadi pertanyaan, di manakah peran kebudayaan (salah satunya diwakili oleh syair dan puisi) yang dibawakan penyair-penyair Arab waktu itu? Apakah kemudian mereka mendukung kebudayaan yang jahil ataukah tidak mau peduli dengan jahiliyah dan sibuk dengan keindahan?

Tulisan ini bukan membahas persoalan yang sudah “agak” usang, misalnya persoalan seni adalah untuk seni. Karena, syair sebagai sebuah hiburan masyarakat sepertinya memang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Tapi bagaimana bila seni untuk merubah masyarakat?

WS Rendra pernah menyebutkan setiap orang harus memberi kesaksian terhadap apa yang dilihatnya di muka bumi. Dalam buku Sajak-sajak Sepatu Tua ia menyebut soal kesaksian ini.

Aku mendengar suara
Jerit hewan yang terluka
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh dari sarangnya
Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan bisa terjaga

Dengan “ideologi” ini, tanggung jawab penyair (dan seniman pada umumnya) tidak lagi sekedar menyajikan sebuah keindahan semata, melainkan lebih jauh dari itu, yaitu sebuah kesaksian agar kehidupan bisa terjaga.

Tentu, kesaksian bukan hal sepele. Dalam agama Islam misalnya, kesaksian merupakan hal yang pokok dari yang pokok. Rukun Islam yang lima itu meletakkan ucapan syahadat sebagai hal yang pertama kali harus dilakukan oleh seluruh orang yang mengaku muslim. Syahadat dalam Islam merupakan pengakuan, sebuah kesaksian mengenai adanya satu Tuhan yang bernama Allah dan kerasulan Muhammad.

Namun, pekerjaan manusia seperti yang dipahami Rendra yaitu agar kehidupan bisa terjaga, bukan hal yang mudah. Amar ma’ruf nahi munkar atau menyuruh pada kebajikan dan mencegah kemungkaran, tidak segampang ketika mengucapkannya. Sebegitu susahnya penerapan itu, sehingga setiap orang terkadang sering harus menyiapkan apologi (pembelaan diri) ataupun justifikasi (pembenaran) terhadap tindakannya yang tidak amar ma’ruf nahi mungkar.

Mari contohkan pada pengentasan kemiskinan. Walau sudah disepakati kalau salah satu penyebab kemiskinan itu adalah kurangnya pendidikan di masyarakat, namun tetap saja 20% anggaran pendidikan seperti diamanatkan UUD 1945 tak pernah terwujud. Dan, hebatnya, penguasa negara selalu mempunyai alasan yang masuk akal untuk menjawab persoalan itu. Alasan seperti keuangan negara tidak cukup, masih ada prioritas lain, dan seterusnya, menjadi konsumsi masyarakat banyak, yang anehnya tidak mendapat reaksi aktif dari masyarakat.

Demikian juga dengan masalah kesaksian ini. Banyak seniman mencari pembenaran kembali ketika kesaksian yang diberikan kemudian dinilai sekedar lafazh alias ucapan saja.

Di lain sisi, soal kesaksian ini kemudian diterjemahkan dengan mengeluarkan syair-syair yang sarat dengan kritik sosial. Saking semangatnya, setiap seniman berlomba-lomba memberi kritik sosial dalam karya-karyanya. Karya kritik sosial kemudian menjadi salah satu ciri yang wajib ada pada seniman. Tidak dibilang seniman bila tak peka dalam persoalan sosial.

Alhasil, perlombaan itu membuat masyarakat dibanjiri karya-karya yang sarat dengan kritik sosial. Namun, apa lacur, yang namanya banjir tetap saja merugikan walaupun bahan dasar dari banjir itu adalah tetesan air yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan.

Seberapa besar kebutuhan masyarakat terhadap kesaksian yang diberikan oleh seniman ini? Film Little Buddha yang pernah dimainkan Keanu Reeves menjelaskan soal “takaran kebutuhan” dengan cukup menarik. Dikisahkan, setelah berhari-hari Sidharta Gautama bersemedi di bawah pohon Bodhi, ia tidak makan, minum dan berkomunikasi dengan orang lain, termasuk para peziarahnya. Anehnya, walau sudah sedemikian serius semedinya itu, Sidharta belum juga menjumpai kebenaran yang dicarinya. Sampailah suatu hari, lewatlah di tengah sungai sebuah rakit yang berisi seorang guru musik dan murid. Ketika sang guru mengajari muridnya menyetem alat musik petik, sang guru berkata dengan bijak: “Jangan terlalu rendah, karena talinya tak akan mengeluarkan bunyi. Dan jangan pula terlalu tinggi, karena ia akan putus.”

Kata-kata ini didengar oleh Sidharta yang kemudian menyadarkannya dan kemudian mengantarkannya mencapai kebenaran sejati.

Dengan alur ini, paling tidak sudah bisa ditebak, mengapa di zaman reformasi ini banyak penyair yang mengumandangkan soal reformasi, keprihatinan dan seterusnya, tapi kondisi masyarakat tetap tak berubah juga; tetap miskin, tetap bodoh, tetap dieksploitasi dan tetap menjadi budak. Demikian pula, minimal bisa dimengerti bagaimana bentuk syair-syair yang dibawakan penyair-penyair Arabia di zaman jahiliyah dulu.

Sehingga wajarlah bila pertanyaan miris dikeluarkan, manakah yang jahil, apakah zaman, penyair, ataukah kebudayaannya? (*)

4 thoughts on “Kesaksian Kebudayaan

  1. saluut…..sekarang makin mahir agaknya nulis kebudayaan..
    seneng aku…kalo bisa ntar kalo kita dah tua..
    kita bisa jalan-jalan sambil buat tulisan budaya…

    Like

  2. 1. Jauh kali kurasa lompatan “ka”bah digantungi karya-karya sastra terbaik” ke kelatahan menggunakan istilah jahiliyah menjadi pragmentasi sosial dengan munculnya feodalisme, penindasan dsb. Tolong aku agar jelas ini semua.

    2. Soal penggunaan istilah di Indonesia, khususnya yang berasal dari Arab menarik dikomentari. Kalau seorang wartawan salah tulis istilah ekonomi, istilah politik atau istilah kenegaraan, pastilah “berbahaya sekali. Tetapi saksikanlah apabila ada siaran langsung misalnya tentang maulid di TV. Saya sering menyaksikan reportase langsung yang dalam kesempatan itu sering muncul istilah “shallallahu alaihissalam” dan “shallallahu alaihi wa sallam”. Tenang tenang saja, gak ada masalah kayaknya. Nah TV kita sering mempopilerkan istilah sirik. Gak tahu bahasa apa itu. Tapi Sirik itu telah begitu jauh mengganggu istilah “syirik”, dan gak ada tuh yang ribut. Itu baru kekacauan, bos.

    3. Ha, ha istilah nasionalisme. Jadi istilah ini sudah semakin difahami tidak untuk orang Islam, beutl? Lihatlah penggunaan istilah partai nasionalis, aliran nasionalis, dlsb. Bah, pokoknya gawatlah bos.

    4. Maaf, saya belum bisa mengulangi bacaan secara lebih sempurna untuk naskah bos ini, jadi belum ada komentar. Tetapi S2 IAIN buat seorang jurnalis yang tamatan S1 komunikasi rupanya bisa berakibat seperti ini ya. Ha ha ha.

    5. Maju teruslah, terus, terus. Jangan terlalu menyukai U2 “But I feel never found what I m looking 4”. Sekadar saran aja bos. Terimakasihlah.

    Like

  3. Kata Mustofa Bisri, “Ada Republik rasa kerajaan.” Aneh memang, Indonesia punya banyak “istana” negara serta penari, pelukis istana dan seterusnya.

    Syukron, hehehehe…!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s