Demi Pena


Umumnya, kalimat ini yang lebih sering dipakai: Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Saya tak berani menyamakan makna saya dengan makna yang dimiliki Tuhan. Karena itu saya memakai kalimat: demi pena dan apa yang dituliskannya.

Tak terbilangnya pena yang telah menulis dan akan terus menulis, mengungkapkan, pena mempunyai keabadian sendiri; ia akan terus “sedang menulis”. Dan karena yang tak terbilang itu adalah satu, maka cukuplah saya mengatakan “yang dituliskannya” dengan akhiran pengganti “nya” untuk “dia”.

Pena pulalah yang membedakan sebuah zaman. Arkeolog dan antropolog mengatakan, zaman dibagi dua yaitu zaman pra sejarah dan sejarah. Sejarah dimulai ketika “huruf” sudah mulai dituliskan.

Ketika ia dituliskan, ia sudah lebih dulu ada di dalam pikiran dan kemudian diseleksi, oleh pikiran juga, yang tentu saja proses seleksi ini sangat panjang dan ukurannya tidak akan pernah hanya satu.

Karena itu, tulisan adalah sebuah “makhluk” bagi manusia. Ia akan berbicara sendiri dan kemudian orang lain, yang membacanya, akan punya persepsi, asumsi, bantahan sampai pada pengetahuan dan teori sendiri mengenai diri “kata”. Seterusnya, seterusnya, seterusnya, sampai kemudian tak berbilang.

Pena memang tak akan berhenti.

One thought on “Demi Pena

  1. Bos, bagaimana kalau pena mereka pake buat korupsi habiskan uang rakyat? Aku bingung sekarang, mereka telah pake sebuah pena untuk legitimasi langkah menghabiskan hutan di kampungku. Pena siapa tempatku mengadu untuk melawan pena-pena itu?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s