Rumus


rumusPembagian yang rigid mengenai ilmu pengetahuan ada dua yaitu eksak dan non-eksak. Ilmu ekonomi secara makro berada di ranah ilmu pengetahuan sosial namun sebagian mengatakan ilmu ekonomi, terutama pada klausul generalisasi kesimpulan, sudah naik tingkat dalam sebuah ruang “kemungkinan pasti”. Tingkatan ini berbeda dengan ilmu-ilmu sosial –seperti sosiologi, psikologi, komunikasi, dan lain-lain dalam lingkup humaniora— yang rumus-rumus teoritisnya, generalisasi kesimpulannya, berlaku spesifik.

Pengaruh eksak, terutama hukum-hukum matematika yang mengungkapkan soal perhitungan dan kepastian, begitu kukuh dalam ekonomi. Alhasil, proses sebab-akibat begitu tegas. Satu kejadian “dimungkinkan pasti” akan mengakibatkan fenomena yang lain.

* * *

Kenaikan Elpiji yang 12 kg adalah salah satu mata rantai dari efek domino yang dihasilkan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) Bensin Premium terhadap mobil-mobil plat hitam. Dengan alasan kebijakan korporasi, maka Pertamina merasa tidak perlu untuk berkonsultasi dengan pemerintah maupun DPR. Walau mereka juga secara resmi mengajukan usulan kepada pemerintah. Tapi kemudian, kebijakan direncanakan berlaku Senin (22/4) mulai pukul 00.00 WIB kemarin, sudah ditarik. Pertamina tidak jadi menaikkan harga Elpiji 12 kg. Pasalnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) , Jero Wacik, menarik dan menunda keputusan itu di saat-saat akhir akan diterapkan kemarin.

Tentu, BUMN seperti Pertamina mesti manut pada bosnya. Pemerintah, dalam hal ini, melakukan intervensi langsung kepada sebuah BUMN yang berada dalam kendalinya. Walaupun, BUMN seperti Pertamina, seperti disampaikan dalam keterangan persnya kemarin, bahwa kenaikan harga Elpiji 12 kg bukan kenaikan harga produk, melainkan kenaikan pada harga distribusinya. Sederhananya, harga Elpiji 12 kg tetap, ongkos kirimnya naik. Hal ini menandakan aspek sosial politis begitu kuat dalam kebijakan menaikkan harga-harga, apapun jenisnya, apakah itu energi, produk barang/jasa dan seterusnya.

Jelaslah, kenaikan harga distribusi diakibatkan oleh rencana kenaikan BBM yang sedang diusung pemerintah. Di sinilah berlaku rumus-rumus ekonomi soal “kemungkinan yang pasti” tadi. Kenaikan komoditas strategis seperti BBM kemungkinan besar pasti akan menaikan produk lain; apakah dia terkait secara langsung maupun tidak langsung. Ada tiga jalur yang selama ini harus dijaga ketat dalam efek domino itu yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Bukan cuma itu.

Selain soal kenaikan harga yang bersifat matematis ekonomi tadi, maka dalam kaitan ekonomi-sosial-politik, gejolak sosial politik adalah reaksi pada efek domino tersebut. Sejarah sudah menceritakan, kenaikan BBM telah memicu aksi demonstrasi besar-besaran –hampir mirip dengan kejadian reformasi 1998—ketika pemerintah meminta persetujuan terhadap opsi kenaikan BBM ke DPR pada Maret 2012 lalu. Adalah aneh kalau isu kenaikan harga seperti BBM dan harga-harga, dikatakan hanya sebatas isu ekonomi semata. Seluruh komponen yang memengaruhi hajat hidup orang banyak, tidak bisa diputuskan hanya dari sudut pandang ilmu ekonomi semata. (*)

About these ads

About this entry