Jembatan Kukar, Mengapa Runtuh?


Beberapa alasan mengemuka soal ambrolnya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) pada 26 Desember kemarin. Selain pertanyaan soal teknis, yang juga sedang diinvestigasi adalah mengapa ketika perbaikan jembatan itu tidak ditutup.

 * * *

Adalah Menteri Pekerjaan Umum (PU) Ir Djoko Kirmanto yang paling disorot soal runtuhnya salah satu infrastruktur utama di Indonesia ini; jembatan. Dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi V DPR RI, awal Desember lalu, Djoko mengemukakan beberapa hal terkait soal runtuhnya jembatan ini. Selain Menteri PU, hadir pula Wakil Gubernur Kalimantan Timur Fardi Wajdy, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari Syaukani, Kepala Koordinator Lalu Lintas Mabes Polri, DPRD Kutai Kartanegara, serta para kontraktor dan konsultan pembangunan Jembatan Mahakam II Tenggarong Kukar seperti PT Hutama Karya, PT Perentjana Djaja, PT PCI Consultant, dan PT Bukaka Teknik Utama.

Djoko Kirmanto memaparkan, ada 2 kemungkinan penyebab jembatan Kukar. “Tidak ada kabel utama yang putus. Tidak ada kabel vertikal yang putus. Yang bermasalah adalah penghubung antara kabel utama dan kabel vertikal. Semuanya lepas. Ada 2 kemungkinan penyebabnya,” papar Djoko.

“Yang pertama mungkin penggantung (klem penghubung) kelebihan beban. Kemungkinan kedua, ada gaya mendadak yang mempengaruhi penggantung. Nah berat maksimal yang bisa ditahan oleh klem itu 210 ton. Karena ada gaya mendadak tadi, ada kemungkinan berat bebannya berlebih,” jelas Djoko.

Soal penyelidikan, Djoko Kirmanto mengusulkan kepada Komisi V DPR RI untuk bersama-sama menunjuk ahli bidang konstruksi, khususnya mengenai jembatan, untuk menyelidiki robohnya jembatan Kutai Kartanegara (kukar). “Saya usulkan kita menunjuk seorang ahli yang kita sepakati bersama (pemerintah dan DPR), setelah hasil penelitian tersebut ada, maka harus kita ikuti apapun hasilnya,” kata Menteri PU.

Djoko menambahkan, saat ini tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian PU disertai para ahli dari ITB, LIPI, UGM, BPPP dan ITS sudah melakukan investigasi teknis di sana. Djoko beranggapan tim tersebut sudah cukup independen karena datang dari universitas-universitas. “Tim yang saya minta itu semua datang dari universitas, saya tidak keberatan apabila menunjuk dari universitas yang lain, asalkan yang ditunjuk itu memang ahli-ahli di bidang konstruksi, terutama ahli di bidang jembatan,” tambahnya.

Balitbang Kementerian PU pun sudah mengambil komponen yang paling lemah dari jembatan itu untuk selanjutnya dilakukan penyelidikan di Bandung. “Komponen terlemah dari jembatan itu namanya adalah buhul, yaitu sambungan antara kabel penggantung dengan kabel utama, karena berdasarkan pengamatan sementara bahwa sambungannya itu lepas, sementara kabel utama dan kabel penggantungnya aman,” tambah Djoko.

Sementara itu fakta kondisi yang ada saat ini adalah, Blok Angkur (Tenggarong) tidak menunjukan adanya perubahan akibat keruntuhan ini sehingga Blok Angkur berikut fondasinya tidak menyebabkan keruntuhan. Selain itu expansion joint jembatan pendekat (Tenggarong) tidak mengalami perubahan gap sehingga dipastikan Blok Angkur (Tenggarong) tetap pada posisinya.

Fakta lainnya menunjukkan bahwa kabel utama (suspension cable) tidak ada yang putus atau lepas dari ikatan pada Blok Angkur sehingga tetap berfungsi menahan beban.

Sementara itu kerusakan terjadi pada bagian koneksi kabel hanger dengan clamp, yaitu, PIN Clamp sebagian besar bagian ini mengalami kerusakan, lengan hanger ada beberapa yang patah dan PIN lengan hanger mengalami putus geser.

Jembatan Kukar adalah penghubung antara Tenggarong Seberang dan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Jembatan ini memiliki panjang bentang 100m + 270 m + 100 m, dengan konstruksi 2 pilon dan 2 abutment, 3 bentang Girder, dan termasuk tipe jembatan Gantung (jembatan rangka yang digantung dengan Cable Suspension Steel). Secara teknis jembatan tersebut merupakan jembatan gantung dengan bentang besar dengan panjang 710 m, lebar 270 m ditambah sisi luarnya 100 m. Jadi bentangannya ini 470 m dengan menggunakan struktur kabel gantung, lalu ada pendekat di kiri dan kanan.

Jembatan yang pembangunannya dimulai dari tahun 1996 dan selesai tahun 2000 ini, dananya bersumber dari APBD II, APBD I, dan APBN yang merupakan bantuan luar negeri dari Jepang (SPL OECF INP 23).

Diakui Djoko, bahwa saat terjadi runtuh, Jembatan Kukar sedang dalam perbaikan. Permasalahan mengapa ketika perbaikan tidak ditutup, masih menjadi pertanyaan dan sedang diinvestigasi. Karena yang mengetahui keadaan dan pengaturan saat runtuh terjadi adalah di lapangan.

Menurut Djoko Kirmanto, runtuhnya Jembatan Kukar merupakan peristiwa yang langka, mengingat belum pernah ada jembatan dengan usia di bawah 10 tahun yang runtuh. Dari kejadian ini Djoko meminta agar masyarakat tidak trauma terhadap jembatan. Serta, harus memiliki keberanian untuk membangun jembatan. PU pun telah berkoordinasi dengan instansi lain yakni Kementerian Perhubungan untuk penyediaan moda transportasi ferry sebagai alternatif.

Kementerian PU melalui Ditjen Bina Marga juga telah membuat Standar Operasional dan Pemeliharaan (SOP) dalam bidang jalan dan jembatan. Namun, untuk pengawasan secara keseluruhan diperlukan Komite Keamanan Jembatan Panjang. Sehingga mulai dari perencanaan hinggga pemeliharaan akan teramati dengan baik.

Dalam kesempatan tersebut Menteri PU membantah bahwa runtuhnya Jembatan Kukar akibat hantaman kapal batubara yang telah terjadi sebanyak enam kali. Dijelaskannya bahwa, Jembatan yang terhandam kapal batubara adalah Jembatan Kuning atau Jembatan Samarinda.

Di lain pihak, Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan audit teknologi Jembatan Tenggarong yang runtuh dengan mendata dan mengambil sampling bagian konstruksi terkait runtuhnya jembatan untuk keperluan audit teknologi. “Karena ini dianggap suatu bencana kegagalan teknologi maka kita akan mengumpulkan data dari reruntuhan jembatan. Mengapa jembatan ini runtuh, tentunya dari sisi teknologi (struktur), ” kata Dr. Ir. Wahyu W Pandoe MSc, Ketua Tim Investigasi Bawah Air BPPT.

Selain tim investigasi bawah air yang melakukan scanning (pemetaan) juga terdapat  tim atas air (bagian struktur) yang sedang melakukan penelitian existing condition dari jembatan. Tim investigasi bawah air mengidentifikasi objek-objek di bawah air sungai Mahakam dengan menggunakan peralatan side scan sonar, multibeam echosounder serta alat pendukung lainnya seperti alat pengukur arus dan GPS.

Existing condition bawah air juga tidak luput dari pemeriksaan. Data yang ada akan dipelajari dan dikombinasikan dan itu hanya membutuhkan waktu yang tidak lama untuk menganalisanya. Selanjutnya, hasil kombinasi akan dikirim ke pusat  dan tim di kantor pusat akan memberikan kesimpulan apa yang sebenarnya terjadi.

Tentu setelah penelitian berakhir mesti ada yang bertanggung jawab. Dirjen Bina Marga, Djoko Murjanto, menjelaskan bahwa untuk masa pemeliharaan konstruksi, kontraktor bertanggung jawab selama rentang waktu satu hingga tiga tahun. Lepas dari masa pemeliharaan tersebut, kontraktor masih harus bertanggung jawab mengenai jaminan konstruksi bangunan dengan masa 10 tahun.

Corporate Secretary PT Hutama Karya, Ary Widiantoro ketika dihubungi media menegaskan semenjak serah terima pembangunan Jembatan Kukar kepada pemerintah pada tahun 2001 lalu, pihaknya sudah tidak terlibat dalam pemeliharaan. Sementara mengenai jaminan konstruksi 10 tahun yang dikatakan Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Djoko Murjanto, Ary mengatakan, “10 tahun kan sudah lewat”.

Nah …

(dari berbagai sumber)


About this entry